PCNU Kota Kediri gelar tumpengan massal peringati Hari Santri Nasional

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kediri, Jawa Timur, menggelar tumpengan massal memperingati Hari Santri Nasional 2022 sekaligus menyambut peringatan Satu Abad NU di Gedung Olahraga (GOR) Jayabaya, Kota Kediri.

"Ini adalah bentuk penghormatan kami pada tradisi. Tumpeng ini kan warisan leluhur yang terus diuri-uri oleh NU. Maknanya sangat dalam bagi kami, seperti cara makannya yang bersama-sama. Kami harap kebersamaan ini akan terus terjaga, terbukti NU akan berusia 100 tahun pada 23 Februari 2023," kata Ketua Panitia Acara Nur Muhyar saat dikonfirmasi, Jumat.

Ia mengatakan kebersamaan adalah fondasi utama demi menjaga keutuhan bangsa. Dengan kebersamaan diharapkan tidak akan terpecah belah.

Baca juga: Bamusi Surabaya ziarah ke makam pendiri NU peringati Hari Santri

"Kebersamaan itu jangan diartikan hanya NU, tapi juga Bangsa Indonesia pada umumnya, sehingga kita tidak mudah terpecah belah. Tumpeng itu simbol, bentuknya kan mengerucut ke atas, bisa ditafsirkan berjuang bersama-sama untuk menuju satu visi Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Nur Muhyar menambahkan, saat membuat 100 tumpeng ini memberdayakan anggota Fatayat dan Muslimat NU Kota Kediri. Semua gotong royong membuat tumpeng untuk dimakan bersama-sama saat kegiatan yang digelar di GOR Jayabaya, Kota Kediri, Kamis (27/10) malam.

"Agar mereka tidak lupa cara membuat tumpeng. Saya harap juga generasi yang lebih tua bisa mengajari yang muda-muda memasak untuk kebutuhan tumpeng, biar ada regenerasi," kata Nur Muhyar yang juga Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama(LPNU) Kota Kediri.

Baca juga: Ribuan santri di Kota Batam ikuti upacara Hari Santri Nasional 2022

Peringatan Hari Santri Nasional 2022 ini diawali dengan syukuran 100 tumpeng dan dilanjutkan dengan Pengajian Malam Jumat Gus Liek (K.H. Dauglas Thoha Yahya). Ribuan orang hadir dalam kegiatan ini.

K.H. Dauglas Thoha Yahya saat pengajian itu menyampaikan bahwa semua mempunyai kewajiban untuk menjaga keutuhan NKRI.

"Kita semua mempunyai kewajiban menjaga kesepakatan nasional yakni negara yang berbentuk NKRI," kata Gus Liek.

Gus Liek menambahkan, Hari Santri Nasional 22 Oktober dilatarbelakangi oleh Resolusi Jihad, yang merupakan embrio dari Hari Pahlawan 10 November. Untuk itu, diharapkan seluruh umat bisa menjaga keutuhan bangsa seperti harapan para ulama.

Baca juga: Ribuan santri dapatkan literasi keamanan siber di Hari Santri Nasional

"Kiai Hasyim Asy’ari mencetuskan Hubbul Wathon Minal Iman. Mengingat hal tersebut, kita harus bisa menjadi orang yang nasionalis religius," kata Gus Liek dalam pengajian tersebut.