PDIP gelar festival kuliner berbahan baku 10 makanan pendamping beras

·Bacaan 3 menit

DPP PDI Perjuangan menggelar festival kuliner yang berbahan baku 10 makanan pendamping beras menjelang Peringatan HUT Ke-49 PDIP.

Festival kuliner itu dibuka langsung oleh Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, di halaman depan Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat.

Menurut Hasto, kegiatan itu digelar dalam memperingati HUT PDIP yang bertema "Bangunlah Jiwa dan Badannya untuk Indonesia Raya".

"Di masa pandemi tahun ketiga ini, kita terus menggelorakan semangat optimisme membangun jiwa dan badannya yang sehat. Itu mengandung nilai-nilai spiritualitas yang tinggi. Membangun badannya diperlukan asupan makanan yang bergizi," kata Hasto.

Oleh karena itu, dengan mengundang juri dari chef profesional diharapkan dapat menggerakkan semangat Indonesia Raya yang berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan.

Baca juga: PDIP siapkan langkah hukum terkait kabar hoaks Megawati meninggal

Menurut Hasto, melalui kegiatan ini, pihaknya ingin mengingatkan rakyat Indonesia bahwa Indonesia adalah negara kaya sehingga berbagai bahan makanan yang tersedia bisa diolah dan dikonsumsi selain beras, seperti talas, pisang, sukun, sagu, dan lain-lain.

"Yang didorong adalah semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri di bidang pangan, untuk kita lebih percaya kepada sumber pangan yang bisa didapatkan dari lingkungan sekitar kita daripada pangan impor," ujarnya.

PDIP mendorong bahwa 10 bahan pendamping beras ini memiliki nilai keekonomian tinggi sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya untuk dikomersialkan. Apalagi d tengah pandemi, hal ini menjadi potensi bagi masyarakat dari sisi nilai ekonomi.

Baca juga: Megawati tulis pesan khusus untuk TPDI menjelang HUT Ke-49 PDIP

"Kembali kepada makanan yang ramah lingkungan, yang bisa kita produksi sendiri dan di dalam makanan mengandung 'science', visi, dan seni bagi kita untuk mencicipi dan berkreasi atas makanan Nusantara yang begitu luar bisa agar kita tidak sedikit-sedikit impor beras," kata Hasto.

Dengan makan pendamping beras ini, masyarakat mempunyai banyak alternatif memenuhi kebutuhan karbohidrat.

"Ada porang, sagu, talas, umbi-umbian, jagung, pisang, bahkan lebih dari 10 makanan pendamping beras. Semua ini bisa ditanam di dalam negeri," ujarnya.

Hasto akan mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperbanyak riset pangan untuk memperkuat kedaulatan pangan.

"Sebab bagi PDIP, kedaulatan pangan berbeda dengan ketahanan pangan. PDIP lebih memilih kedaulatan pangan, yang berarti Indonesia harus bisa memproduksi sendiri bahan pangan, tak melulu impor. Itu harus didukung riset yang banyak dan kuat," ujar Hasto.

Dalam kompetisi yang digelar hingga besok itu, para peserta dibagi dalam lima kategori, yakni kreasi appetizer, kreasi main course, kreasi dessert, kreasi snack, dan kreasi soup. Dewan Juri perlombaan dipimpin Samuel Wattimena.

Baca juga: PDIP bertekad buat rekor MURI senam serentak di HUT Ke-49

Hasto hadir di lokasi bersama Ketua DPP PDIP Wiryanti Sukamdani dan Sri Rahayu. Mereka berkeliling mengunjungi setiap stan peserta. Tampak setiap grup menerima sambil memasak makanan kreasi yang disiapkan.

Tampak Hasto Kristiyanto mencicipi makanan khas Kabupaten Minahasa Utara, yakni ongol-ongol singkong dan mencoba kue lumpur sukun khas Kota Bekasi.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Wiryanti Sukamdani menjelaskan ada 305 peserta dalam festival kuliner ini.

"Hari ini akan dipilih para pemenangnya. Sementara esok hari, akan diadakan pameran kuliner dari seluruh Indonesia yang dibuat dari bahan 10 pendamping beras. Acara ini diikuti dari 34 provinsi," kata Wiryanti.

PDIP juga menulis buku khusus kuliner nonberas atau makanan pendamping beras yang jumlahnya di atas 550 menu.

"Buku ini meneruskan karya buku Bung Karno yang berjudul Mustika Rasa dan buku kali ini khusus pendamping beras. Itu semua kita lakukan dalam HUT Ke-49," kata Wiryanti.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel