Pedagang diingatkan untuk wajar saat ambil untung

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengingatkan kepada pedagang barang kebutuhan untuk rakyat banyak agar wajar dalam mengambil keuntungan, khususnya dalam kondisi saat ini karena harga-harga mulai merangkak naik seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).


"Itu terdengar klasik, kira-kira begini, kalau mau ambil untung besar, jangan di barang yang diperlukan rakyat banyak, karena itu penderitaan yang dihadapi oleh masyarakat akibat kenaikan-kenaikan harga sudah terlalu besar. Jadi, di tempat seperti ini (pasar tradisional) ambillah yang wajar, yang normal," kata Anies di Pasar Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Kamis.


Menurut Anies, pedagang pasar juga mempunyai andil dalam menentukan harga berbagai barang yang akan dikonsumsi masyarakat.

Anies mengharapkan para pedagang dan semua orang yang terlibat di pasar untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dengan membantu membuat pasar tradisional lebih efisien dan barangnya terjangkau.


"Apabila di dalam transaksi-transaksinya itu mengambil margin yang wajar, maka pasar akan jadi sehat. Bila tidak wajar, menjadi tidak sehat," kata Anies.

Baca juga: Jakarta Selatan sediakan protein murah guna tekan harga pangan


Oleh karena itu, menurut mantan Menteri Pendidikan ini, fungsi pengawasan di pasar harus dilakukan sebaik mungkin agar harga tetap stabil, sehingga terjadi ekosistem perdagangan yang baik.


"Kemudian pengawasan dan lain-lain harapannya bisa menjaga itu, ini pesan yang saya sampaikan kepada semua untuk dijaga. Jangan sampai kita berada dalam sebuah ekosistem yang tidak sehat yang efeknya harga-pangan di pangan masyarakat menjadi tinggi," ucapnya.

Harga-harga bahan pokok di Jakarta mengalami pergerakan naik dalam beberapa waktu terakhir.


Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan kenaikan harga-harga komoditas yang diatur pemerintah (administered price) telah berimbas pada laju inflasi, khususnya akibat kenaikan harga BBM dan kenaikan tarif angkutan yang terjadi di semua daerah.


"Dan kalau kita lihat, hampir semua daerah sudah mengalami harga inflasi pangan bergejolak dan tarif angkutan," kata Perry dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Pengendalian Inflasi 2022, dalam YouTube Bank Indonesia pada Rabu (14/9).

Baca juga: Pemprov DKI: "Pangan Bersubsidi" guna stabilkan harga telur ayam


Adapun saat ini inflasi daya beli atau inflasi inti masih rendah, yakni tiga persen.

Dengan demikian, menurut Perry, pengendalian inflasi pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah menjadi kunci agar daya beli masyarakat tetap terjaga.


Sementara itu, Perry menjelaskan, tingkat inflasi sudah merambat naik. Pada Juli 2022, inflasi berada di angka 4,94 persen kemudian turun 4,69 persen pada Agustus 2022, penyebab utamanya adalah kenaikan harga-harga pangan yang bergejolak.


Adapun inflasi pangan per Agustus 2022 turun ke 8,69 persen dari 10,47 persen Juli 2022.


"Tapi 8,69 persen ini masih tinggi. Inflasi harga pangan bergejolak harus turun maksimum di bawah 5 persen," kata Perry.

Baca juga: Jakarta Barat pantau harga bahan pangan secara rutin