Pedagang Divaksin, Ekonomi Indonesia Diharapkan Membaik

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PD Pasar Jaya, Arief Nasrudin, berharap vaksinasi Covid-19 di pasar-pasar akan membantu menumbuhkan ekonomi nasional. Vaksinasi tahap awal untuk pasar dimulai di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, selama lima hari sejak 17 Februari 2021.

Setelah ini, Arief mengatakan pihaknya bersama dengan Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan akan memperluas vaksinasi di pasar-pasar, mulai dari perwakilan wilayah Jakarta Pusat, Timur, Utara, Barat, dan Selatan. Kemudian akan masuk ke pasar-pasar besar dan kecil.

"Saat ini kami sedang melakukan semua sensus pedagang berdasarkan nama dan alamat. Hal ini agar tidak ada kesalahan dalam pelaksanaannya," jelas Arif dalam dialog virtual pada Jumat (19/2/2021).

"Setelah vaksinasi di seluruh pasar, kami harap ekonomi mulai menggeliat dan pemerintah bisa cepat mengakselerasi sektor-sektor lain termasuk para pengguna jasa lain," sambungnya.

Ia menegaskan walau para pedagang Pasar Tanah Abang sudah divaksin, tapi akan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Hal ini mulai dari 3M, serta harus menggunakan face shield dan masker.

"Pengunjung pasar bahkan kini menjadi lebih yakin. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi vaksinasi ini, dan pemerintah sangat peduli," tuturnya.

Survei CSIS: 63,6 Persen Gen Z di Jakarta Tidak Percaya Kemanjuran Vaksin Covid-19

Petugas medis menyiapkan vaksinasi COVID-19 di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta, Rabu (17/2/2021). Vaksinasi COVID-19 tahap kedua yang diberikan untuk pekerja publik dan lansia itu dimulai dari pedagang Pasar Tanah Abang di blok A, B, F, dan G. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Petugas medis menyiapkan vaksinasi COVID-19 di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta, Rabu (17/2/2021). Vaksinasi COVID-19 tahap kedua yang diberikan untuk pekerja publik dan lansia itu dimulai dari pedagang Pasar Tanah Abang di blok A, B, F, dan G. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sebelumnya, Center for Strategic and International Studies (CSIS) membuat survei mengenai persepsi terhadap vaksin Covid-19. Survei dilakukan untuk Provinsi DKI Jakarta dan Yogyakarta.

Di Ibu Kota, tingkat percaya Gen Z berusia 17-22 tahun terhadap kemanjuran vaksin berada paling rendah sebanyak 36,4%. Sementara, tingkat ketidakpercayaan Gen Z terhadap vaksin sebanyak 63,6%.

Sedangkan, yang paling percaya kemanjuran vaksin ialah generasi Boomers berusia 55-73 tahun sebanyak 73,2%. Yang tidak percaya vaksin hanya 25,8%.

Kemudian, ada generasi milennial berusia usia 22-38 tahun yang percaya dengan kemanjuran vaksin sebanyak 46,9%. Yang tidak percaya dengan kemanjuran vaksin 53,1%.

Sementara, Gen X berusia 39-54 tahun yang percaya kemanjuran vaksin berjumlah 53,6%. Yang tidak percaya sebanyak 43,2%.

Sementara, di Yogyakarta, tingkat percaya Gen Z berusia 17-22 terhadap kemanjuran vaksin juga paling rendah sebanyak 44,4%. Tingkat ketidakpercayaan mereka terhadap vaksin setinggi 55,6%.

Sedangkan, yang paling percaya kemanjuran vaksin di Yogyakarta ialah generasi Boomers berusia 55-73 tahun sebanyak 75,7%. Yang tidak percaya hanya 21,6%.

Untuk Gen X berusia 39-54 tahun berusia yang percaya kemanjuran vaksin berjumlah 58,7%. Tidak percaya 38,4%.

53,8 Persen Milenial Percaya Vaksin

Sementara, generasi Milennials berusia usia 22-38 tahun yang percaya dengan kemanjuran vaksin sebanyak 53,8%. Tidak percaya 45,7%.

"Kepercayaan responden di Jakarta terhadap kemanjuran vaksin lebih rendah daripada responden yang berada di Yogyakarta. Dari sisi usia, ketidakpercayaan pada kemanjuran vaksin lebih tinggi pada Gen Z usia 17-22 tahun dibandingkan kelompok usia lainnya," kata Peneliti CSIS Noory Okthariza, Kamis (18/2/2020).

"Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kepercayaan pada penyebaran Covid-19 dengan kepercayaan terhadap vaksin dan bersedia untuk divaksin," ucapnya.

Adapun, Survei CSIS dilakukan pada 13-18 Januari 2021. Total sampel sebesar 800 dan pada setiap provinsi dipilih secara acak 400 orang sampel.

Penarikan sampel dilakukan secara acak menggunakan sistem multistage random sampling. Populasi survei ini adalah seluruh penduduk di dua provinsi DKI Jakarta dan DI Yogyakarta yang telah berusia 17 tahun ke atas dan sudah menikah ketika survei dilakukan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: