Pedih Ibunda F, Korban Perundungan Dipaksa Setubuhi Kucing

Merdeka.com - Merdeka.com - Nasib tragis dialami seorang anak berinisial F (11), di Tasikmalaya, Jawa Barat. Siswa kelas SD itu meninggal dunia setelah dipaksa menyetubuhi seekor kucing sambil direkam lalu dibully teman-temannya.

Kepergian korban menjadi pukulan telak bagi keluarga. Terlebih setelah mengetahui korban mengalami perbuatan tak menyenangkan dari teman-temannya.

Meski pedih pihak keluarga tetap ikhlas. Bahkan setelah keluarga pelaku para perundungan sempat datang dan meminta maaf atas perbuatan dilakukan.

"Kami keluarga sudah iklas dengan kepergiannya, tapi semoga kejadian ini tidak terjadi lagi kepada anak-anak lainnya. Saya minta mereka untuk lebih mendidik anak-anaknya, jangan ada pembiaran," ujar ibu korban T (39)kepada wartawan, Kamis (21/7).

T menceritakan kondisi korban setelah mengalami perundungan hingga meninggal dunia. Dia mengatakan, anaknya kerap mendapatkan perundungan berupa kekerasan fisik dari teman-temannya.

Akibat ulah teman-temannya tersebut, T mengungkapkan, anaknya merasakan sakit di kepala dan enggan keluar rumah.Puncaknya, sekitar sepekan sebelum meninggal. Video korban diduga menyebar di media sosial.

"Anak saya jadi malu, depresi, tidak makan, minum, banyak melamun. Anak saya juga tidak mau keluar rumah dan merasa sakit di bagian kepala karena sempat dipukuli," kata T.

T menyebut anaknya tersebut kemudian mengeluhkan sakit tenggorokan. Keluarga akhirnya membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Singaparna Medika Citrautama (SMC). Korban sempat menjalani perawatan namun nyawanya tak tertolong.

Korban Didiagnosa Alami Tifoid

Pihak rumah sakit mengungkap kondisi korban sebelum meninggal dunia. Kepala Bidang Pelayanan RSUD SMC Adi Widodo mengatakan bahwa korban diketahui dibawa oleh pihak keluarga ke tempatnya pada Sabtu (16/7) sekitar pukul 19.00 WIB.

Saat itu, kata Adi, kondisi pasien diketahui dalam kondisi penurunan kesadaran. Berdasarkan keterangan dari orang tuanya, korban diketahui sudah mengalami penurunan kesadaran sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit.

Hasil pemeriksaan di rumah sakit, anak yang masih berusia 11 tahun itu dinyatakan meninggal karena ada komplikasi tifoid. "Secara medis, penyebab kematian hasil diagnosis akhir ada komplikasi dari tifoid yang menyerang ke otak. Neuropati tapi masih suspek," kata Adi kepada wartawan.

Adapun terkait kondisi mental pasien, dijelaskan Adi, diketahui suspek episode depresi. Namun walau begitu, pihaknya belum bisa melakukan tindak lanjut akan diagnosa tersebut karena pasien belum bisa ditanya oleh dokter spesialis jiwa.

Menurut Adi, ketika pasien mengalami gangguan kejiwaan, maka akan mengalami penurunan daya tahan atau imun. Ditambah tak ada masukan makanan dan minuman.

"Itu mungkin karena gangguan kejiwaan, bisa dari faktor eksternal maupun internal. Bisa dari penyakit organik karena ada demam tifoid juga bisa menyebabkan gangguan kesadaran atau mentalnya. Sementara pengakuan keluarga katanya ada perundungan," ujar dia.

Kasus Diusut Polisi

Kasus yang menimpa korban kemudian dilaporkan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Tasikmalaya, ke polisi, Kamis (21/7). Pelaporan itu dilakukan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

Ada empat orang terduga pelaku perundungan dilaporkan ke polisi. Para terduga pelaku merupakan teman sebaya korban.

"Namun walau dilaporkan, tentunya kami juga akan tetap mendampingi para terduga pelaku perundungan agar tidak menjadi korban perundungan ke depannya," kata Satgas KPAID Kabupaten Tasikmalaya Asep Nurjaeni.

Polisi memeriksa belasan orang terkait kasus tersebut. Para saksi dimintai keterangan berasal dari pelbagai pihak termasuk juga keluarga korban.

Pemeriksaan dilakukan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) bagian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA). Namun polisi belum bisa memberikan keterangan lebih rinci terkait penyelidikan kasus tersebut.

"Kita perjelas dulu tentang adanya peristiwa tersebut. Kemudian kita akan lihat sangkutan apakah ada pidana atau tidak di dalamnya, termasuk pembuatan video, kemudian potensi yang lain, sehingga upload di medsos," kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Ibrahim Tompo. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel