Peduli Perubahan Iklim, India Yakin Mampu Lewati Target Perjanjian Paris

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Lima tahun setelah Perjanjian Paris, India menjadi salah satu dari sedikit negara berkembang yang tidak hanya memenuhi target hijau, tetapi juga bercita-cita untuk mencapai tujuan iklim yang lebih ambisius.

Pada KTT Ambisi Iklim (Climate Ambition Summit) baru-baru ini, Foreign Secretary of India Harsh V. Shringla menyebut bahwa Perdana Menteri Narendra Modi telah memaparkan pendekatan India terhadap permasalahan tersebut.

Modi mengatakan bahwa India harus mengarahkan pandangan yang "lebih tinggi" dan tidak melupakan masa lalu. Dia menambahkan, India tidak hanya akan mencapai target Perjanjian Paris, tetapi akan melampauinya.

"Kami mengambil langkah praktis di semua bidang, termasuk energi, industri, transportasi, pertanian, dan perlindungan ruang hijau, dalam perjalanan seluruh masyarakat kami untuk menjadi pemimpin dalam aksi iklim dan ambisi iklim," kata Harsh V. Shringla dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Rabu (10/2/2021).

India menyadari bahwa perubahan iklim tidak dapat dilakukan secara diam-diam.

"Hal ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, komprehensif dan holistik. Ini membutuhkan inovasi dan adopsi teknologi baru dan berkelanjutan. Sadar akan keharusan ini, India telah mengarusutamakan iklim dalam strategi pembangunan dan industrinya."

"Energi adalah pusat dari semua strategi iklim. Kami yakin India telah menjadi pembangkit tenaga energi bersih dan pemimpin dalam transisi energi dari sumber penghasil karbon dioksida ke sumber energi terbarukan dan bahan bakar non-fosil."

Pemanfaatan Energi Terbarukan India

Sejumlah pria mengenakan masker berjalan melewati bendera nasional India di New Delhi (16/9/2020). Total kasus Covid-19 di India melampaui lima juta pada 16 September, data kementerian kesehatan menunjukkan Pandemi meluas cengkeramannya di negara tersebut. (AFP/Sajjad Hussan)
Sejumlah pria mengenakan masker berjalan melewati bendera nasional India di New Delhi (16/9/2020). Total kasus Covid-19 di India melampaui lima juta pada 16 September, data kementerian kesehatan menunjukkan Pandemi meluas cengkeramannya di negara tersebut. (AFP/Sajjad Hussan)

Harsh V. Shringla juga berniat untuk terus memanfaatkan potensi energi terbarukan India.

"Kapasitas energi terbarukan kami adalah yang terbesar keempat di dunia dan perluasan kapasitas yang sedang dilakukan juga salah satu yang terbesar di dunia. Sebagian besar akan datang dari sumber energi terbersih yaitu tenaga surya."

"Kami sudah melihat kemajuan. Kami awalnya berkomitmen untuk membangun energi terbarukan dengan kapasitas 175 GW pada tahun 2022. Kami telah melangkah lebih jauh dan berharap dapat melampaui 220 GW dalam dua tahun ke depan. Kami memiliki target yang lebih ambisius yaitu 450 GW pada tahun 2030."

"Kami berupaya untuk memastikan bahwa 40% tenaga listrik di India berasal dari sumber bahan bakar non-fosil pada tahun 2030. Dorongan energi bersih ini sejalan dengan upaya paralel untuk mengurangi intensitas emisi ekonomi kita sebesar 33-35% (dari level 2005) pada 2030."

India berkeinginan untuk menjadi warga dunia yang bertanggung jawab di ruang iklim. Tidak hanya melampaui komitmen Perjanjian Paris, namun juga mengadopsi instrumen inovatif guna memajukan kerjasama internasional dalam aksi iklim.

"Kami telah membentuk organisasi internasional seperti Aliansi Tenaga Surya Internasional (International Solar Alliance) dan Koalisi untuk Infrastruktur Tahan Bencana (Coalition for Disaster Resilient Infrastructure) yang bekerja untuk menciptakan jalur global rendah karbon."

"Lebih dari 80 negara telah bergabung dengan Aliansi Tenaga Surya Internasional, menjadikannya salah satu badan internasional yang tumbuh paling cepat."

"Kombinasi aksi nasional dan kewarganegaraan internasional yang bertanggung jawab ini menjadikan India unik di antara negara-negara berkembang dan menempatkannya di jalur untuk mewujudkan ambisinya menjadi pemimpin dalam pemikiran dan aksi terkait iklim."

Simak video pilihan di bawah ini: