Pegawai RPTRA Sodomi Anak Puluhan Kali di Fasilitas Saat Tutup

Ezra Sihite, Andrew Tito
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pelaku sodomi terhadap anak di bawah umur yang juga diketahui sebagai pegawai Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) berinisial ML (46) sudah dipecat oleh Kelurahan Meruya Utara.

ML langsung dipecat usai ketahuan mencabuli anak di bawah umur. Hal tersebut dijelaskan oleh Lurah Meruya Utara Zainuddin saat dikonfirmasi.

"Sudah lakukan pemutusan kontrak karena ada langkah yang kami lakukan sesuai ketentuan kontrak. Sudah koordiansi ke pimpinan camat," ujar Zainuddin dikonfirmasi, Rabu, 18 November 2020.

Zainuddin mengaku tidak terlalu mengenal baik ML. Namun begitu, dirinya mengetahui kinerja ML.

Menurut Zainuddin, ML merupakan sosok yang selama ini dikenal santun dan baik. Hal inilah yang membuatnya kaget ketika mengetahui ML menjadi pelaku pencabulan.

Ia mengaku baru mendapatkan informasi tersebut dari media massa. "Jadi siapa yang menyangka kayak gini, ibarat petir di siang bolong,” ujarnya.

Zainuddin mengatakan, di Meruya Utara terdapat enam pegawai RPTRA. Mereka dipekerjakan secara shift. Shift pertama dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB. Shift selanjutnya dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Para pegawai RPTRA itu bekerja di tiga RPTRA yang terdapat di Meruya Utara.

Zainuddin memastikan sudah ada seleksi sebelum mengangkat honorer RPTRA. Seleksi itu diselenggarakan oleh Kelurahan Meruya Utara, dengan melibatkan tim seleksi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Pemberdayaan, Dinas Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP), dan Pemprov DKI Jakarta.

Maka dari itu ke depannya, Zainuddin akan mengusulkan pengetatan seleksi pegawai RPTRA. Ia mengaku sudah mengusulkan adanya pengadaan tes psikologi bagi calon pegawai RPTRA.

"Pertama kami akan lebih ingin tahu sejauh mana taraf psikologi dari masing-masing pengelola. Enggak cuma laki-laki, wanita juga," ujarnya

Sementara itu ML sudah ditangkap dan dibawa ke Mapolsek Kembangan Jakarta Barat.

ML hingga kini masih dilakukan pemeriksaan atas kasusnya, yang mana diduga korbannya lebih dari satu orang.

Atas perbuatannya, ML dikenakan pasal UU 81 KUHP tentang perlindungan anak di bawah umur, dengan ancaman hukuman 15 Tahun Penjara.

Ditutupnya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Meruya Utara di masa PSBB disalahgunakan oleh ML (49) untuk melampiaskan aksi bejatnya, mencabuli hingga sodomi bocah lelaki 14 tahun hingga 20 kali.

Sebagai salah seorang petugas di RPTRA Meruya Utara, pelaku yang memegang kunci kantor pengelola RPTRA leluasa melakukan aksi cabul dengan membawa masuk anak ke dalam ruang kerjanya.

Di ruang pengelola yang berukuran sekira 3x3 meter itulah ML puluhan kali mencabuli bocah laki-laki berinisial AA (14).

Pengelola RPTRA Meruya Utara, Syifa membenarkan bahwa ML adalah rekan kerjanya.

Namun, dia mengaku baru mengetahui bahwa rekan kerjanya itu memiliki perilaku seks menyimpang terhadap usia anak dan sejenis.

Syifa mengatakan, dari informasi yang diterimanya, aksi pencabulan itu dilakukan pelaku saat masa PSBB, dimana RPTRA ditutup untuk umum dan waktu kerja para petugas RPTRA juga dipersingkat. ML yang diketahui memegang kunci kemudian memanfaatkannya.

"Saya dengar katanya kejadiannya mulai dari Juli," kata dia soal tindakan sodomi tersebut.