Pegiat Lingkungan Dukung Aksi Penghijauan PDIP di Sungai Ciliwung

·Bacaan 2 menit
Warga memandikan anaknya di bantaran Kali Ciliwung, Jakarta, Senin (19/11). Tak adanya akses sanitasi yang layak menyebabkan anak-anak menderita stunting. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Lingkungan Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono menilai kegiatan yang diangkat PDIP menunjukkan visi berkelanjutan. Yakni melaksanakan penghijauan dan pembersihan Sungai Ciliwung dalam perayaan HUT ke-48 pada 10 Januari 2021.

"Karena Ciliwung sebenarnya merupakan barometer pengelolaan Derah Aliran Sungai di Indonesia, karena melintas dari hulu di Bogor dan ibukota negara yakni Jakarta. Sehingga program pengelolaan Daerah Aliran Sungai oleh PDIP sangat baik dan saya mendukung," tutur Waryono saat dihubungi, Sabtu (9/1/2021).

Namun yang menjadi catatan, Daerah Aliran Sungai (DAS) tentunya masuk dalam naungan pemerintah daerah selaku yang mengelola secara resmi. Sebab itu, pelaksanaan giat itu memerlukan koordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan.

"DAS di bawah naungan pengelolaan KLHK ada dirjennya, direktur, dan seterusnya. Di sisi lain pengelolaannya juga menjadi wewenang Gubernur dengan Korwil-korwilnya. Sehingga yang penting adalah koordinasi dan gotong royong dalam pengelolaan," kata Waryono.

Ahli Lingkungan Hidup Indonesia, Masnellyarti Hilman menambahkan, sudah menjadi keharusan bagi semua pihak untuk peduli dengan lingkungan yang pastinya akan berpengaruh terhadap sektor lainnya.

"Untuk sungai akan berpengaruh pada penggunanya. Antara lain pertanian, perikanan. Lalu sumber air minum yang memerlukan kualitas air yang baik, tidak tercemar. Guna meningkatkan kualitas air biayanya cukup tinggi. Dan bila ada zat pencemar yang tidak terolah melalui air minum atau melalui rantai makanan, akan mengkontaminasi manusia," kata Nelly.

Pemulihan Sungai

Lebih lanjut, membersihkan sungai selalu memerlukan biaya besar. Di Gowanus Canal, New York, Amerika Serikat misalnya, yang tercemar limbah industri dan sewerage.

Ada lumpur disebut black mayonnaise yang amat berbahaya, sebab mengandung logam berat, benzene, dan minyak. Juga bakteri-bakteri patogen seperti typhus, kolera dan lainnya. Totalnya, pembersihan sungai itu menghabiskan biaya USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun.

Aksi PDIP ini diharapkan menambah perhatian pemerintah untuk melakukan pelaksanaan pembangunan pemulihan sungai di Indonesia dan mencegah terjadinya pencemaran dengan program pengawasan.

"Membangun infrastruktur ramah lingkungan sehingga 2030 target pencapaian SDGs goals tercapai. Karena sungai yang terjadi pendangkalan akibat lumpur dan sampah, penggundulan hutan menyebabkan pada musim hujan menimbulkan banjir dan longsor," Nelly menandaskan.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, pihaknya akan melakukan gerakan penghijauan serentak dan membersihkan sungai skala nasional pada Minggu 10 Januari 2021. Dia memastikan acara digelar dengan memperhatikan disiplin protokol kesehatan Covid-19.

"Ketika sungai tercemar, semua makhluk hidup yang terkaitnya, juga kehidupan sekitarnya akan tercemar. Beras yang kita makan di kota, bisa jadi adalah dari padi yang ditanam di wilayah diairi sungai tercemar merkuri, misalnya. Sehingga membiarkan sungai tercemar, sama saja mengancam peradaban manusianya," ujar Hasto.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: