Pejabat Gedung Putih Kritik Regulasi Vaksin COVID-19 Era Donald Trump

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pejabat senior Gedung Putih mengkritik cara kelola peluncuran vaksin COVID-19 yang dilakukan oleh pemerintahan Donald Trump selama menjabat. Ia menyebutnya sebagai aturan yang "kacau" dan "sangat terbatas".

Kepala Staf Presiden Joe Biden Ron Klain mengatakan tidak ada rencana di pemerintah federal untuk distribusi vaksin di seluruh AS.

Presiden Joe Biden, yang menjabat sejak Rabu 20 Januari 2021 lalu, telah menjanjikan 100 juta suntikan vaksin COVID-19 dalam 100 hari pertamanya, demikian dikutip dari laman BBC, Senin (25/1/2021).

AS telah melaporkan lebih dari 25 juta kasus COVID-19-19.

Sekitar 417.500 kematian telah dikaitkan dengan virus tersebut. Dalam beberapa minggu terakhir, jumlah kematian terkait COVID-19 di AS pada beberapa hari belakangan telah melebihi 4.000.

Presiden Biden menandatangani serangkaian tindakan baru minggu lalu, termasuk meningkatkan vaksinasi dan pengujian. Dia telah meminta kepada orang Amerika untuk memakai masker dan memperingatkan bahwa jumlah kematian bisa menjadi lebih buruk.

"Biar saya perjelas, segala sesuatunya akan terus menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik", katanya.

Upaya Presiden Joe Biden mengikuti kritik luas terhadap penanganan pandemi oleh pemerintahan Trump dan program vaksinasi.

Vaksin telah didistribusikan ke negara bagiandan kota di AS. Tetapi beberapa mengeluh bahwa sulit mendapatkan vaksin COVID-19.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, sekitar 41 juta dosis telah didistribusikan pada hari Sabtu kemarin di seluruh negeri, tetapi hanya 20,5 juta yang telah diberikan.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Seberapa Buruk Situasi di Seluruh AS?

Layar menunjukkan ucapan terima kasih terhadap petugas kesehatan terlihat di Times Square, New York, AS, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins hingga 29 April 2020 WIB, jumlah kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)
Layar menunjukkan ucapan terima kasih terhadap petugas kesehatan terlihat di Times Square, New York, AS, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins hingga 29 April 2020 WIB, jumlah kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)

Total kasus melebihi 25 juta pada hari Minggu kemarin, menurut data dari Universitas Johns Hopkins.

Infeksi telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir - dengan lonjakan infeksi baru setelah Thanksgiving dan Natal.

Jumlah rumah sakit mencapai level tertinggi selama pandemi awal bulan ini tetapi perlahan-lahan mulai turun seiring dengan kasus harian.

Anthony Fauci, ahli penyakit menular terkemuka AS, mengatakan bahwa rata-rata angka infeksi mulai berkurang.

Meskipun gambaran nasional telah sedikit stabil, dia memperingatkan negara itu tetap berada dalam "situasi yang sangat serius".

CDC sangat prihatin bahwa varian baru dapat mempercepat penyebaran virus. Strain baru lebih cepat ditularkan yang pertama kali terdeteksi di Inggris. Ini berpotensi dapat menjadi strain dominan di seluruh AS pada bulan Maret 2021.

Virus ini telah terdeteksi di 20 negara bagian, kata Dr Fauci. Tetapi, ia memperingatkan negara itu memiliki "kemampuan terbatas" untuk melacak penyebarannya melalui populasi.

Simak video pilihan di bawah ini: