Pejabat KKP Beberkan Pembelian Barang Mewah Edhy Prabowo dan Istri

Syahrul Ansyari, Edwin Firdaus
·Bacaan 3 menit

VIVA - Plt Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Muhammad Zaini Hanafi membeberkan pembelian barang mewah yang dilakukan mantan Menteri KKP Edhy Prabowo dan istrinya, anggota DPR Iis Rosita Dewi saat dinas ke Hawai, Amerika Serikat.

Zaini Hanafi merupakan salah satu pihak yang turut dalam perjalanan Edhy dan Iis ke Amerika Serikat sebelum terjadi operasi tangkap tangan (OTT) di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Zaini menyebut, mulanya Edhy membeli jam tangan merk Rolex saat di Hawai.

Zaini menceritakan hal tersebut saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dengan terdakwa Pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito dalam perkara suap izin ekspor benur atau benih lobster di KKP.

"Pak Menteri membeli jam Rolex. Nah Pak Menteri membeli jam Rolex satu. Kemudian ibu (Iis) ingin membeli juga, dan ternyata kuota kartu kreditnya atau apanya saya kurang ngerti, itu kehabisan," kata Zaini di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021.

Baca juga: Wamenkumham Bicara Soal Hukuman Mati, Gerindra: Urus Internal Dulu

Karena kartu kreditnya Edhy tak bisa membelikan Iis jam tangan Rolex, Edhy kemudian meminjam kartu kredit milik Zaini. Setelah dipinjamkan oleh Zaini, rupanya kartu kredit Zaini pun saat itu tak bisa digunakan.

Zaini berdalih, saat itu Iis tak jadi membeli jam tangan Rolex. Namun keesokan harinya, Iis kembali meminjam kartu kredit miliknya untuk belanja barang mewah lainnya, yakni tas merk Hermes.

"Besok paginya baru meminjam kartu kredit lagi itu untuk membeli tas Hermes, kemudian parfum (Hermes) sama syal (Hermes) kalau tidak salah," kata Zaini.

Mendengar penjelasan itu, hakim kemudian mengkonfirmasi harga-harga barang mewah tersebut yang dibeli Iis menggunakan kartu kreditnya.

"Itu kira-kira tas Hermes seharga USD 2.600, parfum USD 300. Syal seingat saya, kalau tidak salah bros, syal atau bros harganya itu USD 2.200, kemudian, sepatu Channel ibu juga beli USD 9.100," kata Zaini.

Hakim kembali mengkonfirmasi, apakah Zaini sengaja memberi pinjaman atau Edhy dan istri yang meminjamnya. Menurut Zaini, Edhy dan Iis yang meminjam kepadanya.

Hakim mencecarnya lagi, dan mengkonfirmasi apakah utang itu sudah dikembalikan kepada dirinya. Namun Zaini mengaku belum.

"Sampai sekarang belum. Mau ditagih, tapi masih belum pak. Tapi akan saya tagih. Karena pinjam pak. Kalau enggak ditagih di akhirat," kata dia.

Mendengar penjelasan Zaini, hakim mengingatkan agar berkata jujur, lantaran saksi sudah disumpah. Tapi Zaini mengaku berani dikonfrontir dengan Iis Rosita Dewi dalam persidangan.

"Nanti akan kami minta keterangan Bu Iis juga ya, apa pinjam atau saudara yang nawarin," kata hakim yang diamini Zaini.

Sebelumnya, pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito didakwa menyuap Menteri Keluatan dan Perikanan Edhy Prabowo. Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan Suharjito menyuap Edhy sebesar USD 103 ribu dan Rp706 juta.

Suharjito menyuap Edhy Prabowo melalui Safri dan Andreau Misanta Pribadi selaku staf khusus Menteri Kelautan dan Perikanan (KP), Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy Prabowo, Ainul Faqih selaku staf pribadi Iis Rosita Dewi sebagai anggota DPR sekaligus istri Edhy Prabowo, dan Siswandi Pranoto Loe selaku Komisaris PT. Perishable Logistics Indonesia (PT. PLI) sekaligus Pendiri PT. Aero Citra Kargo (PT. ACK).

Jaksa menyebut pemberian suap yang diberikan Suharjito kepada Edhy melalui lima orang itu dengan tujuan agar Edhy Prabowo mempercepat persetujuan perizinan ekspor benih lobster atau benur di KKP tahun anggaran 2020. Menurut Jaksa, uang tersebut diperuntukkan untuk kepentingan Edhy Prabowo dan istrinya, Iis Rosita Dewi.