Pekerja 'gig economy' mengaku tak lagi bisa bertahan

·Bacaan 5 menit

Paris (AFP) - Baik di Paris, Kuala Lumpur maupun California, para pekerja gig economy (ekonomi pasar tenaga kerja lepas dan paruh waktu) khawatir mereka tidak dapat lagi bertahan hidup dengan penghasilan kecil dari pekerjaan yang membuat mereka kian rentan saja.

Istilah "gig" (pertunjukan) telah ada sejak seabad silam sampai pada musisi-musisi jazz yang menggunakannya untuk menyebut pertunjukan satu kali, tetapi sekarang gig economy melibatkan jutaan orang dalam berbagai jenis pekerjaan, mulai dari pengemudi Uber hingga tim pengiriman Deliveroo.

Wissem Inal berkendara lebih dari 700 kilometer dalam satu pekan dengan skuternya guna mengirimkan paling banyak 10 makanan bawa pulang di pinggiran kota Paris setiap malam.

"Saat ini, karena lockdown saya mendapatkan penghasilan bersih 500 euro dalam satu bulan," kata pria berusia 32 tahun yang telah mengemudi untuk Deliveroo sejak 2017 tetapi juga mengambil pekerjaan untuk Uber Eats dan Stuart.

Inal kesulitan melihat "sisi baik" dari pekerjaannya saat ini dan mengkritik kalkulasi oleh algoritme Deliveroo yang memutuskan berapa banyak bagiannya dari tugas yang dia lakukan.

"Kiriman senilai enam euro di siang hari hanya bernilai tiga euro di malam hari. Anda tidak bisa mencari nafkah dengan pekerjaan ini, kecuali Anda tak keberatan hidup bagaikan budak."

Dia baru-baru ini bergabung dengan asosiasi pengemudi pengiriman gig yang berupaya meningkatkan kondisi kerja.

"Kita harus bisa membela diri," tegas dia.

Ketika Erica Mighetto mulai mengemudi bersama Lyft tiga tahun silam, "Saya sangat menyukainya", kata da.

Putranya yang sudah dewasa telah meninggalkan rumah dan dia pikir itu akan jadi langkah bagus sampai dia menemukan pekerjaan di bagian pembukuan atau manajemen properti.

"Saya sangat menikmati, Anda tahu, memilih jam kerja saya sendiri," kata dua kepada AFP. "Saya kira hidup itu menyenangkan."

Mighetto tinggal di Sacramento tetapi mesti mengemudi lebih dari satu jam ke daerah San Francisco pada akhir pekan karena banyak pekerjaan di kota-kota yang lebih kaya.

Dia tidur di mobilnya atau membayar 25 dolar AS untuk satu kamar.

Mighetto menarik 60-80 dolar AS per satu jam sebelum pengeluaran pada 2017 tetapi serangkaian pemotongan suku bunga menyebabkan hal itu turun menjadi 20 dolar AS awal tahun ini dan menjadi kurang dari 10 dolar AS pada Maret.

Dia beranggapan algoritme tidak jelas dan merugikan.

"Jadi dia mengenal saya secara pribadi," kata Mighetto. "Dan tawaran bonus diubah, Anda tahu, berdasarkan apa yang ingin saya terima."

Jika teman-teman mendapat tawaran bonus 50 dolar AS untuk melakukan 20 perjalanan per pekan, algoritme akan menawarkan 350 dolar AS, namun untuk 120 perjalanan dalam satu pekan.

Untuk mendapatkan tugas yang cukup dan mengklaim bonus, pengemudi akan mendapatkan fee lebih rendah.

"Anda berada di lubang hitam lingkaran setan seperti ini," kata Mighetto.

Dia tidak mempercayai argumen bahwa pekerjaan gig economy itu fleksibel.

"Saya pribadi menyebutnya pekerjaan berdasarkan permintaan ... tidak ada fleksibilitas - Anda harus bekerja saat ada permintaan. Anda akan bekerja larut malam, akhir pekan yang panjang, dan setiap hari libur."

Pada musim semi, dia berhenti mengemudi karena takut tertular Covid-19 tetapi mesti berjuang mendapatkan tunjangan pengangguran sebesar 450 dolar AS per pekan, bukan 167 dolar AS yang dibayarkan kepada para pekerja gig economy.

Dia menerima tunjangan federal tambahan 600 dolar AS per pekan yang diperkenalkan AS sebagai bagian dari langkah-langkah paket stimulus Covid-19 tetapi jumlah sebesar itu habis dalam waktu empat bulan.

Mighetto dibuat tersayat oleh referendum California yang didukung oleh Uber untuk membatalkan undang-undang negara bagian yang memaksa perusahaan gig economy mengakui pengemudi mereka sebagai karyawan sehingga harus membayar upah minimum dan tunjangan.

Para pemilih California menyetujui langkah tersebut dengan 58 persen suara mendukung.

"Kita seharusnya tidak melucuti pekerja dari perlindungan tenaga kerja dasar sehingga orang bisa mendapatkan tumpangan murah," kata dia.

Devon Gutekunst yang berusia dua puluh tujuh tahun bekerja pada jasa pengiriman DoorDash yang baru saja mengeduk keuntungan 3,4 miliar dolar AS dalam debut pasar sahamnya.

Ponsel cerdasnya menawarkan pekerjaan - 5,50 dolar AS untuk pengiriman sejauh 4,6 mil dalam 30 menit.

"Itu setara dengan 11 dolar AS per jam, itu terlalu sedikit," kata Gutekunst.

"Pendapatan minimal saya adalah 18 dolar AS per jam. Saya sering menghasilkan lebih dari itu karena saya punya strategi."

Bagian dari itu adalah selektif dan fokus pada Los Angeles barat dan kota pantai Marina Del Rey dan Santa Monica.

Tetapi sebagian besar terdiri dari memainkan platform-platform yang berbeda satu sama lain.

Tingkat penerimaan tugas Gutekunst untuk DoorDash adalah 12 persen hari itu, tetapi dia mengatakan seringkali hanya dua persen.

"Untuk menghasilkan penghasilan yang pantas ... Anda benar-benar harus bermain-main dengan semua penawaran agar Anda bisa bertahan."

Amal Fahmi (24) terus memperhatikan ponselnya dan aplikasi pengiriman Grab yang populer di Asia Tenggara.

Dia adalah salah satu dari banyak warga Malaysia yang mencari nafkah dari mengantarkan makanan, obat-obatan, dan berbelanja dengan sepeda motor di Petaling Jaya di pinggiran kota Kuala Lumpur yang makmur.

Sebelum Covid-19 melanda, dia adalah pengemudi Grab di Johor di Malaysia selatan.

"Saya bisa dengan mudah mencari nafkah. Tapi setelah wabah virus, hidup berubah sulit karena banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan saya berkurang," kata Amal kepada AFP saat dia menunggu di luar sebuah pasar swalayan untuk menjemput pesanan kesembilannya hari itu.

Mengingat prospek di Johor suram, dia pergi ke ibu kota.

"Tidak ada kesempatan kerja di kota asal saya karena kualifikasi akademis saya kurang," jelas dia.

Amal menghasilkan sedikit lebih dari 700 dolar per bulan jika dia bekerja lembur. Hari itu dia mencapai rata-rata hariannya 27 dolar setelah 14 jam yang melelahkan.

"Lihat sekeliling, banyak dari kita yang bekerja di pengiriman. Pekerjaan ini semakin keras saja," kata dia.

Amal lebih memilih pekerjaan tetap tetapi tidak sepenuhnya menyesali jalan yang sudah dia pilih.

"Yang memotivasi saya adalah saya bosnya ... saya bisa mengatur waktu saya dan yang terpenting, tidak ada yang mengomeli saya," tawa dia.

burs-aue/rl/wai/bmm