Pekerja Informal Manfaatkan Start Up Perluas Pasar di Tengah COVID-19

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVAPekerja informal bertambah akibat Pandemi COVID-19. Meski begitu, mereka kini juga semakin banyak yang mulai memanfaatkan layanan startup atau perusahaan rintisan untuk memperluas pasar usaha mereka.

Badan Pusat Statistik (BPS) per-Februari 2020, jumlah pekerja informal di Indonesia berada di angka 74,04 juta orang. Namun, pada Agustus 2020 menjadi 77,68 juta orang akibat dampak pandemi COVID-19 terhadap ekonomi.

Layanan ride hailing seperti Gojek & Grab menjadi salah satu sektor bisnis dengan penyerapan tenaga informal yang cukup tinggi untuk basis aplikasi. GoLife saat itu masih berdiri dan menyerap tenaga informal yang cukup banyak.

Baca juga: Bank Syariah Indonesia Yakinkan Muhammadiyah Sejalan Genjot UMKM

Sayang nya, pada akhir tahun 2019 kemarin, mereka memangkas layanan dan melepas banyak mitra nya. Puncak nya, mereka memutuskan untuk menghentikan operasional bisnis mereka di tengah terjangan pandemi Juli 2020 kemarin.

Saat ini, mereka cukup banyak bergabung pada aplikasi sejenis yaitu Halojasa, yang memang menyediakan layanan jasa gaya hidup yang cukup beragam. Halojasa sendiri juga sudah menyerap ratusan vendor dari sektor informal untuk bergabung menjadi mitra.

"Pada saat GoLife tutup Juli kemarin, kami mendapati permintaan yang tinggi ya dari mantan mitra GoLife untuk bergabung jadi vendor kami," Ujar CEO Halojasa Hengky Budiman, dikutip Jumat, 25 Desember 2020.

Lebih lanjut Hengky menuturkan, sektor layanan jasa lifestyle memang terdampak cukup parah. Terlebih dampak terburuk terjadi pada sektor bisnis konvensional seperti spa yang menutup operasional nya sementara, hingga menutup permanen layanan.

“Sektor massage konvensional itu cukup terdampak ya, tapi kami dari Halojasa justru mengalami peningkatan permintaan, khususnya pada layanan massage. Sektor layanan jasa lifestyle ini tidak mati ya selama pandemi, tapi ada perubahan perilaku dari konsumen," tegas dia.