Pekerja McDonald's AS Gelar Demo Protes Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pekerja McDonald's di 12 kota di Amerika Serikat (AS) menggelar mogok kerja pada Selasa, 26 Oktober 2021. Mereka juga membuat aksi demo memprotes masalah pelecehan dan kekerasan seksual yang berkelanjutan di restoran-restoran makanan cepat saji ini.

Dilansir dari AP News, Rabu (27/10/2021), diperkirakan ratusan pekerja McDonald's AS ikut aksi demo di Chicago, Houston, Miami, Detroit dan kota-kota lain, menurut Fight for $15 dan Union, sebuah kelompok buruh yang mengorganisir pemogokan. Ini bukan kali pertama aksi demo terjadi.

Aksi demo ini sudah kelima kalinya digelar sejak 2018. para pekerja memprotes kepada perusahaan atas apa yang mereka sebut sebagai upaya yang tidak memadai untuk menghentikan pelecehan seksual di restorannya.

Setidaknya 50 pekerja telah mengajukan tuntutan terhadap McDonald's atas tuduhan pelecehan verbal dan fisik selama lima tahun terakhir. Pada April lalu, McDonald's mengumumkan akan mewajibkan pelatihan pelecehan seksual, prosedur pelaporan untuk keluhan dan survei karyawan tahunan di 40 ribu tokonya di seluruh dunia mulai Januari 2022.

Tetapi, beberapa pekerja mengatakan itu tidak cukup. Mereka ingin McDonald's turut dimintai pertanggungjawaban atas pelecehan di restorannya.

Adriana Alvarez adalah bagian dari sekelompok pekerja yang ikut demo. Ia telah bekerja di restoran cepat saji ini selama 10 tahun. "Saya mogok hari ini karena kita membutuhkan McDonald's untuk menyadari bahwa kita tidak akan berhenti. Yang perlu dihentikan adalah pelecehan seksual," katanya.

"Tidak adil bagi para pekerja ini, mendekati upah kemiskinan, dan di atas semua itu harus khawatir dilecehkan secara seksual di tempat kerja," tambahnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pelecehan Seksual

ilustrasi logo McDonald's (AFP/Justin Sullivan)
ilustrasi logo McDonald's (AFP/Justin Sullivan)

McDonald's menyebut pada Selasa malam bahwa pemogokan tidak berdampak pada operasinya. Tindakan pekerja ini didorong oleh gugatan yang diajukan bulan lalu oleh seorang karyawan McDonald's dan orangtuanya terhadap McDonald's dan salah satu pewaralabanya.

Karyawan tersebut berusia 14 tahun ketika dia dipekerjakan di McDonald's di area Pittsburgh pada Oktober 2020. Ia mengatakan bahwa dia tidak menerima pelatihan tentang pelecehan seksual atau cara melaporkannya, meskipun McDonald's membuat hotline pelecehan dan mulai menawarkan pelatihan itu kepada franchisee pada 2019.

Menurut gugatan itu, restoran tempat remaja itu bekerja memiliki seorang manajer pada Januari 2021. Manajer itu telah menjalani hukuman penjara karena melecehkan secara seksual terhadap seorang gadis berusia 10 tahun dan terdaftar dalam daftar pelanggar seks Pennsylvania.

Jalani Hukuman

Ilustrasi penjara (AFP)
Ilustrasi penjara (AFP)

Manajer melecehkan remaja dan karyawan di bawah umur lainnya, tetapi tidak ada penyelidikan oleh pimpinan toko atau McDonald's. Pada Februari 2021, manajer mengikuti remaja itu ke kamar mandi dan memperkosanya.

Manajer bernama Walter Garner itu ditangkap pada April setelah karyawan McDonald's lainnya memberi tahu administrator di sekolahnya tentang perilakunya. Sekolah tersebut pun menghubungi polisi.

Garner dijatuhi hukuman hingga 10 tahun penjara pekan lalu. Remaja itu mencari ganti rugi dari McDonald's serta dari franchisee yang menjalankan restorannya, Bethel Park, Rice Enterprises LLC yang berbasis di Pennsylvania.

INFOGRAFIS: 6 Tips Lindungi Diri dari Pelecehan Seksual

INFOGRAFIS: 6 Tips Lindungi Diri dari Pelecehan Seksual (Liputan6.com / Abdillah)
INFOGRAFIS: 6 Tips Lindungi Diri dari Pelecehan Seksual (Liputan6.com / Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel