Pelacakan TBC Menurun saat Pandemi, Pakar: Gejalanya Mirip COVID-19

Tasya Paramitha, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan bahwa kasus Tuberkulosis atau TBC menurun sepanjang 2020. Angkanya yang jauh dari target itu, diduga lantaran pandemi COVID-19 yang masih melanda.

Adanya pandemi COVID-19, dianggap menjadi kendala pelacakan TBC lantaran terbatasnya mobilitas. Selain itu, tak banyak masyarakat yang benar-benar memahami gejala TBC yang kerap menyerang.

"2018 - 2019 Sudah 64 persen kasus terestimasi yang ditemukan. Pada 2020 malah kebalikannya, hanya 30 persen yang kita temukan, yang bisa dilaporkan. Ini menjadi alarm untuk kita di 2021," ujar Nadia, dalam konferensi pers virtual Hari Tuberkulosis Sedunia 2021, Selasa 23 Maret 2021.

Nadia selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML), Kementerian Kesehatan, juga menyebutkan, hanya 3.459 ribu kasus TBC biasa yang ditemukan dari perkiraan kasus 845 ribu. Dari perkiraan 24 ribu, hanya 8.060 kasus TBC resisten yang ditemukan

"Kalau kita menunggu pasien TBC yang punya gejala batuk, demam, serta keringat pada malam hari itu kita tindakan bisa mencapai angka yang ditargetkan. Dengan gejala-gejala ini masyarakat merasa ini penyakit yang biasa-biasa saja, yang nanti sembuh sendiri," tambahnya.

Pandemi juga membuat pemeriksaan terhadap TBC 'tertutup' dengan adanya tracing pada COVID-19. Menurut Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, gejala yang cukup umum pada kasus TBC dan COVID-19 adalah adanya demam dan batuk.

"Gejala keluhan batuk itu sekian persen terjadi pada COVID-19 dan TBC begitu juga dengan demam. Jadi ada keluhan demam batuk maka jangan dilepas begitu saja, itu diperiksa untuk ke arah TBC," jelas Prof Tjandra dalam kesempatan yang sama.

Lantas, apa saja perbedaan yang dapat dikenali dari TBC dan COVID-19? Berikut rangkumannya.

1. Batuk

Pada penderita TBC, batuk akan berlangsung selama 2 minggu atau lebih. Batuk yang cukup lama ini seharusnya menjadi tanda adanya kodisi penyakit yang tak biasa. Sementara, batuk akibat virus SARS-CoV-2 hanya terjadi baru-baru saja.

"Gejala batuk lebih dari 2 minggu, atau yang tak kunjung sembuh untuk segera memeriksakan ke faskes atau ke RS," saran Nadia.

2. Demam

Demam pada TBC dan COVID-19 memang sulit dibedakan. Namun, penyakit penyertanya dapat dilihat. Misal, demam disertai adanya sesak napas yang kemungkinan besar mengidap COVID-19. Sementara, demam yang disertai keringat di malam hari bertanda adanya TBC.

3. Gejala pembeda

Pada TBC, kasusnya disertai dengan gejala penurunan berat badan tanpa sebab pasti. Sementara, COVID-19 biasanya mencakup kehilangan fungsi indera penciuman dan kelelahan berlebih.

"Sekarang bisa khawatir terkena COVID-19, lalu pergi ke petugas, tapi bisa juga deteksi penyakit lain (seperti TBC)," ungkap Prof. Tjandra.