Pelajaran Pahit dari Portugal, Covid Bangkit Lagi karena Melonggarnya Prokes

Merdeka.com - Merdeka.com - Marie Braud menganggap dirinya anomali. Meski sering bepergian karena pekerjaan, dia mampu menghindari paparan Covid-19 selama pandemi. Tapi itu semua berubah bulan ini.

Perempuan 37 tahun itu mengalami demam dan lesu ta lama setelah menghadiri festival Santos Populares. Dia mengira itu hanya flu biasa, tapi setelah menjalani tes PCR dia dinyatakan positif Covid-19.

"Saya pikir virus corona itu sudah cerita lama," kata dia kepada Aljazeera saat menjalani isolasi di Lisbon.

"Saya tadinya akan memulai pekerjaan baru pekan ini, tapi kondisinya tidak memungkinkan."

Braud adalah salah satu dari ribuan warga Portugal yang baru-baru ini positif Covid-19/ Pejabat kesehatan di dalam negeri dan Eropa khawatir melihat angka kasus positif di negara berpenduduk 10 juta itu yang terus meningkat sejalan dengan angka kematian.

Setelah aturan pembatasan pandemi dicabut awal tahun ini, sejumlah kasus positif Covid-19 dan angka kematian terus bertambah di daerah populer dikunjungi turis seperti Lisbon, Porto, dan Algarve.

Wabah terbaru di Portugal ini menjadikan negara itu pusat penyebaran Covid di Eropa dan angka kasusnya yang kedua di dunia setelah Taiwan.

Portugal mencatat angka kasus positif Covid 1.989 per satu juta penduduk dalam sepekan terakhir. Sebagai perbandingan Spanyol mencatat 232 dan Inggris 161, menurut catatan Our World in Data.

Portugal juga mencatat rata-rata 41 kematian per satu juta penduduk dalam tujuh hari sehingga menjadi negara nomor lima angka kematian tertinggi di dunia.

"Harapannya adalah di saat musim panas tiba kita tidak ada lagi gelombang baru, tidak ada peningkatan kasus Covid tapi harapan itu pupus," kata Hajo Zeeb, profesor epidemiologi di Universitas Bremen, Jerman yang mengamati kasus Covid di Portugal, kepada Aljazeera.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) Maret lalu mengatakan sejumlah negara Eropa mencabut pembatasan terlalu "brutal" di saat ada peningkatan penularan yang kemungkinan besar disebabkan varian virus corona yang lebih mudah menular.

"Tidak ada penanganan khusus di Portugal dan negara Eropa lainnya terhadap virus ini. Rasanya orang sekarang lebih menerima apa sedang terjadi saat ini," kata Zeeb.

Februari lalu pemerintah Portugal mengumumkan sejumlah pencabutan pembatasan dan protokol kesehatan karena kasus postif dan kematian Covid-19 sudah turun signifikan setelah puncaknya pada Januari. Angka kematian mencapai 62 per satu juta penduduk dalam jangka waktu 14 hari.

Otoritas Kesehatan Portugal mengatakan peningkatan kasus ini tampaknya karena aturan pembatasan dan protokol kesehatan dilonggarkan, munculnya sub-varian Omicron yang baru, peningkatan turis, dan makin banyaknya acara-acara dihadiri massa yang menjadi sumber penularan.

Sebagian karena pengaruh perang Rusia-Ukraina, Portugal mengalami kebangkitan kembali di sektor pariwisata.

Menurut ahli, turis menilai Portugal sebagai negara yang lebih aman dibanding negara Benua Biru lainnya, termasuk suhu yang hangat, pantainya dan harga yang lebih murah dibanding negara Eropa lain.

Lantaran mulai tingginya kedatangan turis dan tingkat penularan pejabat kesehatan mengatakan otomatis jumlah kasus kematian juga meningkat.

Namun Miguel Castanho, peneliti di Institut Molecular Medicine di Lisbon mengatakan meski tingginya kasus penularan menjadi salah satu faktor bertambahnya kematian di Portugal, tapi itu belum menggambarkan kondisi seutuhnya.

"Masalahnya adalah dampak kepada angka kematian yang cukup tinggi. Alasannya tidak sepenuhnya diketahui. Sejak awal 2022 angka kematian tidak pernah turun signifikan," kata dia.

Salah satu penjelasan yang mungkin adalah adanya sebagian populasi yang lebih sensitif terhadap Covid dibanding populasi umumnya.

"Kemungkinan ada sekelompok orang yang lebih rentan atau hidup di kondisi yang membuat mereka rawan terpapar. Kita bicara soal sebagian kecil populasi yang belum divaksin," kaya si peneliti.

Menurut Our World Data, lebih dari 90 persen populasi Protugal sudah divaksin Covid-19.

Namun ilmuwan memperingatkan subvarian BA.5 yang mencakup hampir 90 persen kasus baru Covid di Portugal, lebih menular dan bisa menghindari imunitas alami akibat penularan di masa lalu dan vaksinasi sehingga menimbulkan kasus penularan yang tinggi.

Subvarian BA.4 juga sudah terdeteksi di Portugal.

Ahli mengatakan vaksin tidak mampu mencegah penularan baru ini.

"Efektivitas vaksin melemah lawan varian baru ini," kata Castanho meski dia mengakui vaksin masih punya perlindungan tinggi untuk mencegah keparahan.

Otoritas Kesehatan di Eropa memperingatkan, upaya pelonggaran protokol kesehatan dan penanganan virus yang lemah di musim panas ini bisa memicu kondisi musim dingin yang parah dengan munculnya gelombang baru yang lebih besar beberapa bulan lagi. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel