Pelajaran Penting Soal Keuangan dari Ibuku yang Seorang Single Mom

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

TERKAIT: Ibu Rumah Tangga yang Terampil, Tak Gampang Panik saat Suami Dirumahkan

TERKAIT: Mengatur Uang sebagai Pekerja Lepas, Ini 3 Strategi yang Kuterapkan

TERKAIT: Kelalaian Pakai Kartu Kredit, PHK, dan Bangkit dengan Usaha Sendiri

***

Oleh: Milka

Sebelumnya, keluarga saya hidup dengan serba berkecukupan dan saya pun bisa membeli hal-hal yang saya inginkan. Ketika saya berada di bangku kelas 2 SD, Ayah saya berpulang dan keluarga kecil saya akhirnya harus mulai hati-hati dalam membelanjakan uang.

Saya yang awalnya tidak paham dengan permasalahan keuangan ini pun kaget, dan bingung harus bagaimana. Dalam proses mengenal tentang keuangan dan mulai ikut mengatur keuangan sendiri, saya belajar banyak hal dari Ibu saya. Berikut adalah dua nilai yang saya dapatkan dari Ibu, yaitu:

1. Selalu Siap untuk Saat Terburuk

Saya selalu dinasihati Ibu untuk menyiapkan segala sesuatu dalam kondisi terburuk. Suatu ketika di masa SMA, saya menemani Ibu ke ATM dan tidak sengaja melihat nomihnal tabungan yang ada di rekening beliau. Betapa kagetnya saya, karena hanya tersisa 3 juta rupiah saja, sedangkan di rumah saya saat itu ada 5 orang. Saya langsung mengambil kesimpulan bahwa kami tidak mungkin dapat bertahan hidup dalam satu bulan mendatang dan kami dalam krisis keuangan.

Saya pun meminimalisir untuk makan di luar rumah, sampai teman-teman saya ‘patungan’ untuk membelikan saya makanan. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari uang sendiri, agar setidaknya saya bisa membeli kebutuhan saya lain-lain tanpa meminta ke Ibu, ataupun dibelikan teman-teman.

Saya mulai dengan membuka online shop yang saat itu mulai tumbuh di media sosial, ‘Instagram’. Langkah awal tersebutlah yang akhirnya mulai terasa hasilnya setelah satu tahun. Setidaknya saya bisa membeli makanan saya sendiri dan bahkan jika ingin membeli barang lain, saya dapat membeli dengan uang sendiri.

Sebenarnya, saya hanya memiliki uang cadangan atau tabungan dalam jumlah sedikit, itu pun hasil menabung dari uang jajan yang disimpan di wadah lain. Karena kejadian ini saya jadi sadar untuk selalu memiliki uang dingin yang selalu siap digunakan dalam keadaan darurat. Sama dengan Ibu, ternyata Ibu juga punya uang lain yang tidak ditaruh di rekening dan beliau selalu berpesan pada saya, “Siapkanlah rencana untuk hal-hal terburuk yang bisa terjadi.”

2. Tidak Memperhitungkan saat Memberi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Sirilukok
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Sirilukok

Salah satu masa perubahan dalam keuangan saya terjadi saat di bangku SMP, saya mulai belajar untuk menabung. Saya belajar untuk tidak asal membeli jajanan apa pun, dan membawa bekal pribadi dari rumah. Saya memutuskan untuk jajan, hanya jika ada kelas tambahan yang selesai sore hari.

Di sekolah swasta Katholik tempat saya bersekolah, setiap tahunnya setidaknya ada program “Aksi Menahan Diri”, atau semacam memberikan sumbangan bagi mereka yang membutuhkan dari hasil kita yang tidak jajan atau belanja sesuatu. Saya pun tergerak untuk selalu memberikan separuh uang jajan saya untuk disumbangkan.

Ketika itu uang jajan saya hanya Rp 10.000,00 dan saya menyumbangkan Rp 5.000,00, sisa uangnya kadang saya gunakan untuk jajan atau ditabung saja. Saat itu pun saya sebenarnya tidak memikirkan bahwa uang Rp 5.000,00 itu besar, saya rasa kalau ditabung pun akan hanya menjadi uang jajan biasa saja.

Sehingga suatu ketika, saya ingin mentraktir teman-teman saya dan ternyata uang tabungan itu cukup untuk saya gunakan! Padahal saya tidak berharap banyak, niat saya memang hanya ingin menyumbangkan uang tersebut.

Saat itulah saya menyadari salah satu ucapan Ibu saya selama ini, “Kalau memberi itu yang ikhlas, tidak perlu diperhitungkan atau mikir kelamaan. Nanti kamu juga akan dapat bagianmu sendiri.”

Begitulah kedua nilai yang saya dapatkan dari Ibu dan masih saya pegang teguh hingga saat ini. Saya juga dapat merasakan dampak positif dari kedua nilai tersebut, yang mana saya jadi selalu siap ketika ada kondisi buruk melanda, seperti misal saat pandemik Covid-19, saya sudah menyiapkan uang dingin.

Saya juga tidak memperhitungkan ketika sudah memberi sumbangan ataupun bantuan bagi orang lain, bahkan kadang tidak saya catat pada pengeluaran, tapi ternyata uang saya tetap sama, bahkan bertambah lebih banyak.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel