Pelaku industri fesyen Bandung ubah strategi usaha selama pandemi

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Pelaku industri fesyen di Kota Bandung, Jawa Barat, mengubah strategi usaha selama pandemi COVID-19 agar bisa menjaga kinerja bisnisnya tetap bertahan.

"Tentunya pandemi COVID-19 menuntut kami, pelaku usaha di sektor industri fesyen segera beradaptasi sekaligus mengubah strategi agar bisa menjaga kinerja bisnis tetap baik," kata Pemilik merek fesyen Motzint Original Gilang Permana Kencana dalam sebuah seminar daring, Jumat.

Gilang menuturkan perusahaan yang sehat bisa menghindari pengangguran baru akibat pemutusan kerja pegawai.

Menurut dia pandemi COVID-19 yang terjadi hampir sepanjang 2020 berpengaruh signifikan terhadap bisnis yang sudah dibangun dari 2014.

"Jadi tahun lalu itu toko offline kami terpaksa tutup. Penjualan ke luar kota tidak jalan. Reseller juga sama kondisinya, tidak bisa menjual barang," kata Gilang yang menempuh pendidikan di STIE Tridharma Bandung.

Baca juga: Menaker Ida sebut fesyen mainkan peran penting di dunia industri

Ia mengatakan hampir memutus kerja beberapa pegawainya untuk menjaga keuangan perusahaan namun niatnya itu tidak terlaksana setelah mengubah beberapa kebijakan atau strategi usaha.

Beberapa strategi usaha yang diubah selama pandemi COVID-19, kata dia, ialah jika dulu fokus mengandalkan penjualan Motzint secara offline di toko, sekarang ia menjaring pendapatan melalui daring (online).

Ia mengatakan memanfaatkan beberapa marketplace, seperti Shopee, dan lambat laun setelah menjalani proses di tengah pandemi, Motzint bisa bertahan bahkan meningkat dari sisi penjualan.

"Makanya saya coba pelajari bisnis di online, marketplace dan lain-lain. Alhamdulillah ada hasilnya, saya juga tidak merumahkan atau melakukan PHK kepada pegawai," ujar dia.

Baca juga: Olah kreativitas kunci bertahan di industri fesyen kala pandemi

Pegawai di toko Motzint dialihkan untuk menjaga pembelian secara daring dan saat ini ada 15 orang yang bertugas di bagian ini. Mereka pun bertugas menjaga sekitar 500 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk di bagian produksi, ia menambah pegawai di antaranya 40 penjahit baju, celana hingga jaket.

"Alhamdulillah dari menjelang akhir tahun kemarin, penjualan konsisten di angka 10 ribu barang terjual,” kata Gilang.

Ia mengatakan capaian ini membuatnya yakin bahwa industri fesyen masih bisa berkembang meski di tengah situasi pandemi dan ia berharap banyak pengusaha khususnya anak muda bisa memiliki optimisme serupa.

Dari pengalamannya, ada sejumlah hal yang menjadi kunci dalam beradaptasi dan beberapa di antaranya adalah menguasai ekosistem daring yang memiliki pasar lebih luas.

"Ya saya optimistis lah industri kreatif, industri fesyen tetap bisa berkembang dan pemerintah sedang mendorong pelaku UMKM berkembang dengan berbagai program termasuk bantuan modal," kata dia.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengatakan banyak masyarakat berinovasi melakukan kegiatan ekonomi dan secara langsung hal tersebut membuka peluang kerja.

“Banyak kegiatan ekonomi yang terbentuk. Rekrutmen tenaga kerja bisa tetap dilakukan karena ternyata usaha mereka bagus, order ada terus,” ujar Yana.

Menurut Yana pada dasarnya Pemkot Bandung memberikan apresiasi dan memberikan semangat bagi masyarakat yang tetap optimistis dan terus berinovasi di tengah pandemi.