Pelaku Industri Kecil Menengah Keluhkan Bahan Baku Tekstil Langka

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di sektor konveksi atau tekstil, mengeluhkan kesulitannya mendapatkan bahan baku. Kondisi ini, sudah berlangsung setahun lebih.

Seperti yang diungkapkan pelaku IKM wilayah Soreang, Kabupaten Bandung, Asep Setia. Ia mengaku, jenis kain yang banyak digunakan kini mengalami kelangkaan.

Jenis-jenis bahan baku itu seperti jenis kain spandex, aty way, ity crepe, cerutty babydoll, lady zara, dan sakila twill.

"Jika stok dari jenis bahan baku tersebut ada, jumlahnya tidak dapat mencukupi permintaan dan kebutuhan yang tinggi. Hal tersebut juga diperburuk dengan harga jual bahan baku tersebut yang mengalami kenaikan signifikan dengan rentang 20-30 persen per yard-nya," kata Asep dalam keterangannya, Senin 5 Juli 2021.

Kelangkaan itu juga disebabkan oleh Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait Pemberlakuan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS)/Safeguards terhadap impor tekstil dan produk tekstil (TPT).

Faktor lain yang buat makin runyam para pengusaha kecil- menegah ini, jenis kain tersebut merupakan jenis yang hanya dilakukan lewat proses pencelupan atau printing di pabrik pencelupan lokal. Sementara bahan baku dasar jenis kain (greige) masih melakukan impor dari negara lain.

"Bahan baku yang sebelumnya diharapkan dapat dipenuhi oleh para pelaku industri TPT lokal, namun pada kenyataanya tetap tidak bisa mengakomodir kebutuhan para produsen TPT khususnya di sektor hilir yang sudah pasti terimbas secara langsung dari fenomena kelangkaan bahan baku tersebut," jelasnya.

Hal yang sama dikatakan H. Jamal. Pelaku IKM konveksi di daerah Cigondewah, Bandung Jawa Barat. Jamal bilang, kelangkaan bahan baku greige yang disebutnya banyak digunakan untuk produksi kaus dan lainnya sudah sangat terasa.

Ia berharap ada solusi mengenai persoalan ini. Jika dirasa para pelaku IKM mengimpor bahan dasar greige atau benang untuk nantinya diproses sendiri, itu pun terkendala masalah perizinan.

"Ini berimbas kepada output penjualan yang mengalami penurunan, padahal saat ini kondisi pasar juga dirasakan sedang mengalami peningkatan yang sama," kata dia.

Sementara itu, Hariadi yang merupakan pelaku IKM konveksi di daerah Laweyan, Surakarta Jawa tengah, menjelaskan terkait masalah kelangkaan bahan baku juga diperparah naiknya biaya-biaya lain. Harusnya, kata dia, tren pemulihan ekonomi yang tengah bangkit harus dijaga karena sebelumnya sempat buruk di tahun lalu.

Para pelaku IKM juga menilai, situasi seperti ini sangat lah sulit, terlebih adanya dorongan dari pemerintah agar sektor UMKM bisa bekreasi dengan menaruh dagangannya di situs daring atau e-commerce.

"Namun jika menelisik kembali permasalahan utama terkait kelangkaan bahan baku tersebut, hal ini menjadi sebuah hambatan yang sangat besar bagi para pelaku IKM khususnya di sektor konveksi untuk dapat memproduksi barang mereka dan kemudian melakukan penjualan melalui platform e-commerce," ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel