Pelaku penembakan di masjid Selandia Baru akhirnya mengaku bersalah

Wellington (AFP) - Dalam sebuah keputusan tidak tak terduga, pria Australia yang dituduh membunuh 51 jemaah Muslim dalam penembakan massal tahun lalu di dua masjid Selandia Baru, berbalik mengaku bersalah atas semua tuduhan pada Kamis.

Brenton Tarrant, 29, sebelumnya selalu menyangkal 51 dakwaan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan dan satu terlibat dalam aksi teroris, tetapi mengubah permohonannya setelah sidang yang digelar dalam waktu singkat.

"Ya, bersalah," kata Tarrant kepada Pengadilan Tinggi Christchurch melalui videolink dari Penjara Auckland saat dakwaan dibacakan kepadanya.

Tarrant, yang mengenakan atasan abu-abu, menatap tajam ke arah kamera saat mengajukan permohonan.

Tidak ada alasan yang disampaikan untuk perubahan itu, yang berarti Tarrant tidak akan lagi diadili, sebuah proses yang dikhawatirkan akan digunakannya sebagai ajang untuk mempromosikan ideologi rasisnya.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan pengakuan bersalah akan memberi kelegaan bagi banyak orang yang hidupnya hancur dalam serangan itu.

"Permohonan dan vonis bersalah ini membawa pertanggungjawaban atas apa yang terjadi dan juga menyelamatkan keluarga yang kehilangan orang yang dicintai, mereka yang terluka, dan saksi lainnya," katanya.

Hakim Cameron Mander mencatat hukuman atas semua tuduhan dan mengatakan Tarrant akan dijatuhi hukuman pada tanggal yang belum ditentukan.

"Permohonan bersalah merupakan langkah yang sangat signifikan untuk mengakhiri proses pidana ini," katanya.

Permohonan datang bersamaan dengan hari pertama Selandia Baru menyatakan penguncian wilayah (lockdown) selama empat minggu akibat COVID-19.

Mander mengatakan hukuman akan dilakukan "pada saat para korban dan keluarga mereka dapat menghadiri pengadilan secara langsung", katanya.

Hakim mengatakan sebelumnya bahwa sidang Kamis akan ditahan jika Tarrant berubah pikiran pada menit terakhir dan mempertahankan pernyataan bersalahnya.

Persidangan Tarrant dijadwalkan akan dimulai pada 2 Juni dan berlangsung sekitar enam minggu dan komisaris polisi Mike Bush mengatakan sidang Kamis buru-buru digelar setelah pria bersenjata itu menghubungi pengacaranya pada i Selasa.

"Polisi menghargai perkembangan berita ini yang akan mengejutkan para korban dan masyarakat, beberapa di antaranya mungkin ingin hadir di ruang sidang," katanya dalam sebuah pernyataan.

Bush mengatakan para imam dari masjid Al Noor dan Linwood, yang ditargetkan oleh Tarrant, hanya di antara 17 orang yang diizinkan menghadiri pengadilan untuk mendengarkan pengakuan yang diubah.

Ada kelegaan dalam komunitas Muslim Selandia Baru yang kecil dan bersatu padu bahwa mereka tidak harus menanggung persidangan berlarut-larut dan menyakitkan dari penembakan massal terburuk dalam sejarah Selandia Baru modern itu.

"Saya telah berdoa untuknya dan dia telah mengambil arah yang benar," kata Farid Ahmed, yang istrinya Husna ikut terbunuh, kepada TVNZ.

"Saya senang dia mengaku bersalah. Ini awal yang baik."

Tarrant mempersenjatai diri dengan banyak senjata semi-otomatis dan menyerang masjid Al Noor terlebih dahulu, sebelum pindah ke masjid Linwood, menyiarkan secara streaming penembakan itu.

Korbannya semua Muslim dan termasuk anak-anak, wanita dan orang tua.

Dalam pernyataan yang diposting online sebelum pembunuhan, Tarrant mengatakan dia pindah ke Selandia Baru dengan tujuan khusus melakukan pembunuhan terhadap warga Muslim.

Tindakannya mendorong Ardern, yang telah bersumpah untuk tidak pernah menyebut nama si pembunuh, untuk memperketat undang-undang senjata Selandia Baru dan meluncurkan kampanye untuk mengekang ekstremisme online.