Pelaku Penembakan Misterius Saat Demo Kematian George Floyd di Seattle Ditangkap

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pria yang mengendarai mobil di antara para pemrotes kasus George Floyd di Seattle, AS, pada Minggu 7 Juni menabrak barikade, kemudian keluar dari kendaraan dan mengeluarkan pistol. Penembakan terjadi, seorang pendemo terluka, kata pihak berwenang. 

Dikutip dari CBS News, Selasa (9/6/2020), Departemen Pemadam Kebakaran Seattle mengatakan bahwa insiden penembakan tersebut terjadi pada seorang pria berusia 27 tahun. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit dan dilaporkan dalam kondisi stabil. 

Suatu postingan di suatu akun sosial media mantan pemain basket di University of Maryland, Dino Gregory mengatakan bahwa pria yang ditembak itu adalah saudaranya yang bernama Dan. 

Tersangka pria bersenjata itu dilaporkan sudah ditangkap, menurut laporan CBS Seattle, afiliasi KIRO-TV. Laporan itu menambahkan, bahwa Polisi telah menemukan pistol yang digunakan dan menyatakan tidak ada korban lainnya. 

Sebuah video menunjukkan bagian dari pemandangan di lingkungan Capitol Hill di Seattle, yang merupakan tempat ratusan demonstran berkumpul selama berhari-hari di dekat kantor polisi.

Respons Dunia Hingga Penanggapan Hukum Dari Kasus Kematian George Floyd

Para pengunjuk rasa berkumpul di depan markas besar Departemen Kepolisian Austin di Austin, Texas (31/5/2020). unjuk rasa tersebut memprotes kematian George Floyd setelah dijepit di leher oleh seorang petugas kepolisian Minneapolis. (Jay Janner/Austin American-Statesman via AP)

Tak hanya di AS, Puluhan ribu orang juga telah turun ke jalan-jalan di kota-kota lain di dunia yang diantaranya Roma, Berlin, London, dan Paris, seperti dikutip dari VOA Indonesia. 

Selain di Eropa, demonstrasi solidaritas yang lebih kecil juga berlangsung di Asia dan Afrika, yang di antaranya termasuk di Korea Selatan, Afrika Selatan dan Senegal.

Dilansir dari BBC, Undang-undang ke Kongres untuk mereformasi struktur kepolisian Amerika, telah diusulkan oleh Partai Demokrat AS, setelah terjadi protes selama berminggu-minggu terhadap kebrutalan dan rasisme yang dilakukan polisi.

RUU itu dikatakan akan memudahkan penuntutan polisi atas pelanggaran, larangan chokehold (menjepit leher seseorang), dan mengatasi rasisme.

Namun Presiden AS Donald Trump berjanji untuk mempertahankan pendanaan untuk departemen kepolisian di AS, di tengah meningkatnya seruan pemotongan anggaran penegakan hukum, seperti dikutip dari Channel News Asia

"Tidak akan ada pemangkasan anggaran, tidak akan ada restrukturisasi polisi kami," Donald Trump mengatakan pada meja bundar yang dihadiri pejabat negara, federal, dan penegak hukum lokal di Gedung Putih pada hari Senin.

 

Saksikan Video Berikut Ini: