Pelaku UKM Kota Malang berharap ada operasi pasar minyak goreng

·Bacaan 3 menit

Pelaku Usaha Kecil Menengah (IKM) yang ada di wilayah Kota Malang, Jawa Timur, mengharapkan ada operasi pasar minyak goreng untuk dapat mengendalikan harga yang saat ini terus melonjak.

Pemilik Usaha Keripik Tempe Rohani Trio Andi Cahyono di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu mengatakan bahwa saat ini kenaikan harga bahan baku berupa minyak goreng tersebut dinilai cukup memberatkan terhadap industri skala kecil miliknya.

"Ini kondisi yang sangat berat, karena minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok untuk membuat keripik tempe," kata Trio.

Trio menjelaskan, kenaikan harga minyak goreng juga dinilai menjadi kesulitan tersendiri karena para pelaku usaha baru saja mulai bisa berjualan dengan kondisi yang lebih baik usai penurunan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Menurutnya, pada saat status level PPKM Kota Malang mengalami penurunan maka omzet penjualan keripik tempe juga mengalami peningkatan. Namun, saat ini kenaikan harga minyak goreng dirasa sangat memberatkan.

"Dengan adanya penurunan level PPKM, omzet mulai berangsur normal. Akan tetapi, karena harga minyak goreng seperti ini, akhirnya kondisi sulit," ujarnya.
Baca juga: Anggota DPR: Batasi ekspor CPO untuk atasi harga minyak goreng
Baca juga: BI perkirakan minyak goreng bakal sumbang inflasi awal November


Ia menambahkan, dalam kondisi normal harga satu liter minyak goreng yang dipergunakan untuk memproduksi keripik tempe berkisar pada harga Rp11 ribu, atau sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Perdagangan.

Harga tersebut memang terkadang mengalami kenaikan pada kisaran Rp11 ribu hingga Rp12 ribu. Namun, dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan terakhir harga minyak goreng per liter mencapai Rp18 ribu-Rp20 ribu per liter.

"Saat ini posisi minyak goreng naik, kami memberikan istilah tidak naik lagi, tapi ganti harga. Hal ini tentunya juga memberatkan bagi pelaku usaha lain yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan baku utama," ujarnya.

Menurutnya, dalam satu hari kebutuhan minyak goreng untuk memproduksi keripik tempe dan berbagai jenis keripik lainnya mencapai 137 liter. Kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan per hari, karena minyak hanya dipergunakan untuk satu kali pakai.

Untuk menyiasati kenaikan harga minyak goreng tersebut, ia terpaksa mengurangi ukuran dan kemasan produk miliknya. Hal tersebut bertujuan agar harga jual keripik tempe ke tingkat konsumen tidak mengalami kenaikan.

"Jika harga dinaikkan, kondisi akan lebih sulit. Karena saat ini omzet juga baru mulai membaik. Sehingga harga jual tetap, ukuran kami turunkan sedikit," ujarnya.

Ia mengharapkan pemerintah bisa segera mengendalikan harga minyak goreng yang dirasa sangat memberatkan tersebut. Dalam jangka pendek, diharapkan ada langkah operasi pasar untuk para pelaku usaha termasuk masyarakat di wilayah Kota Malang.

"Usaha kami sedikit demi sedikit sudah mulai bisa berjalan, maka kami mohon untuk harga minyak bisa dikendalikan," ujarnya.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok di Jawa Timur (Siskaperbapo), rata-rata harga minyak goreng jenis curah berada pada kisaran Rp18.119 per liter.

Harga minyak goreng tertinggi tercatat di Kabupaten Tulungagung yang mencapai Rp19.666 per liter dan terendah di Kota Batu Rp14.000 per liter. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020, harga minyak goreng kemasan sederhana diatur Rp11.000 per liter.
Baca juga: Harga minyak goreng naik imbas tingginya harga CPO dan pasokan kurang

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel