Pelaku usaha transportasi ubah strategi bisnis saat pandemi

Adi Lazuardi
·Bacaan 2 menit

Sebagian pelaku usaha yang bergerak di bidang jasa transportasi dan travel pariwisata di Pamekasan, Jawa Timur mengubah strategis bisnis mereka agar bisa bertahan di tengah pandemi COVID-19 saat ini.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh perusahaan jasa transportasi, Mandala Wisata Tour and Transport di Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur.

Sejak pandemi COVID-19, Mandala Wisata Tour and Transport ini mengubah strategi bisnisnya, dari hanya sekadar angkutan jasa bagi wisatawan, menjadi tempat ngopi yang disebut dengan "Caffe On The Bus".

"Kalau hanya menunggu pesanan dari wisatawan, kami sulit untuk bisa bertahan di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini," kata pemilik perusahaan itu Mukti Ali kepada ANTARA di Pamekasan, Sabtu.

Melalui "Caffe On The Bus" ini, Mukti Ali berupaya memfasilitasi kebutuhan para penikmat kopi di Pamekasan dan Madura di dalam bus, sambil keliling kota.

Caranya, perusahaan ini bekerja sama dengan pemilik kafe di Madura, sehingga bisnis jasa transpotasi yang dikelola oleh PT Mandala Wisata Rangga Jaya tetap bisa beroperasi dan pemilik kafe yang diajak bekerja sama juga diuntungkan.

"Operasi kami sementara di dua kabupaten, yakni Kabupaten Pamekasan dan Sumenep," kata Mukti yang juga penasihat Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM) ini.

Mukti Ali lebih lanjut menjelaskan, kasus virus corona yang melanda masyarakat dunia, termasuk Indonesia, berdampak pada hampir semua sektor usaha, termasuk usaha travel berupa sewa transportasi dan paket tour keluar Madura.

Selama pandemi COVID-19 berlangsung, terjadi penundaan sewa transportasi dan paket tour keluar Madura di perusahaan travel yang dikelolanya sebanyak 85 trip.

Tujuannya antara lain, Malang, Yogyakarta, Bali, Jakarta, Bandung dan ziarah Wali Songo.

Paket tour yang gagal, akibat larangan bepergian ke luar daerah senilai Rp100 juta, dan sewa bus sekitar Rp200 juta.

"Jadi, nilai total omzet yang terpaksa digagalkan mencapai Rp300 juta," kata Mukti yang juga pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pamekasan ini.

Mukti menjelaskan, dampak kasus corona pada sektor jasa dan pariwisata ini tidak hanya dialami dirinya, akan tetapi oleh semua pengusaha travel dan paket wisata di Madura. Apalagi, saat pemerintah masih memberlakukan penutupan semua objek wisata.

"Maka agar usaha kami tetap bisa bertahan, kami mengubah strategi dan berkolaborasi dengan pengusaha kafe, dan alhamdulillah, kami masih bisa bertahan di tengah kondisi yang serta tidak pasti dan belum tahu kapan pandemi akan berakhir," katanya.