Pelanggaran baru kekerasan Israel-Jalur Gaza menguji gencatan senjata rapuh

Kota Gaza (AFP) - Israel melancarkan serangan baru terhadap sasaran Jihad Islam di Jalur Gaza sebagai tanggapan atas serangan roket, sehingga mempertegas betapa rapuhnya gencatan senjata yang disepakati setelah peningkatan bentrokan yang menewaskan 34 orang Palestina.

Gencatan senjata tersebut dimulai pada Kamis pagi (14/11), setelah dua hari pertempuran yang dipicu oleh pembunuhan seorang komandan Jihad Islam oleh Israel.

Militer Israel menyatakan militer melancarkan serangan baru pada malam hari terhadap Jihad Islam, kelompok gerilyawan paling-tangguh kedua di Jalur Gaza setelah HAMAS.

Serangan militer Israel dilancarkan setelah sedikitnya tujuh roket ditembakkan ke Israel dari Jalur Gaza, dua di antaranya dicegat oleh pertahanan udara.

Militer Israel menyatakan militer "memandang pelanggaran gencatan senjata dan roket yang ditembakkan ke Israel dengan penuh perhatian".

Militer tersebut menyatakan siap "melanjutkan operasi sebagaimana diperlukan terhadap semua upaya untuk membahayakan warga sipil Israel".

Dua orang Palestina yang cedera dirawat di rumah sakit di bagian selatan wilayah itu, kata Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza.

Gencatan senjata yang diperantarai oleh para pejabat Mesir dan PBB, penengah biasa antara Jalur Gaza dan Israel, disepakati saat peningkatan konflik menaikkan kekhawatiran mengenai konflik baru habis-habisan di wilayah itu.

Sepanjang hari Kamis, kehidupan normal telah berlanjut dengan tenang di wilayah Israel di dekat perbatasan Jalur Gaza, sementara di daerah kantung yang menghadapi blokade tersebut, warga juga telah kembali ke kondisi yang relatif tenang.

"Kami menghadapkan perdamaian, kami tak ingin perang," kata Mahmoud Jarda, seorang warga daerah kantung tersebut.

Untuk mengekang ketegangan, rakyat Palestina membatalkan protes mingguan di sepanjang perbatasan Jalur Gaza-Israel, yang telah sering mengakibatkan kerusuhan sejak Maret 2018.

Sedikitnya 311 orang Palestina telah tewas oleh tembakan Israel ke Jalur Gaza atau di daerah perbatasan sejak itu, kebanyakan dari mereka tewas selama demonstrasi dan bentrokan terkait.

Peningkatan konflik berawal pada Selasa pagi (12/11), saat Israel melancarkan pembunuhan terarah seorang komandan Jihad Islam, Baha Abu Al-Ata --yang dituduhnya berada di belakang serangan roket dan serangan lain.

Kerusuhan itu terjadi saat sensitif secara politik buat Israel, sementara tak ada pemerintah yang berfungsi sejak pemilihan September berakhir dalam kebuntuan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Abu Al-Ata "tewas bersama puluhan" gerilyawan setelah serangan terhadap rumahnya. Ia menambahkan, "Musuh kita menerima pesan: Kita dapat menjangkau siapa saja, bahkan di ranjang mereka."

Serangan tersebut memicu serangan roket pembalasan yang nyaris seketika dari Jihad Islam ke Israel, sehingga sirene peringatan serangan udara berkumandang dan mengirim orang Israel bergegas ke tempat perlindungan bom di wilayah tengah dan selatan negeri itu.

Militer Israel telah mengatakan sebanyak 450 roket telah ditembakkan ke wilayahnya sejak Selasa pagi dan pertahanan udara telah mencegat puluhan di antaranya sehingga menciptakan bola api di angkasa.

Tak ada orang Israel yang tewas, kendati satu roket nyaris mengenai mobil yang sedang melaju di satu jalan raya sibuk. Petugas medis Israel mengatakan mereka hingga Rabu (13/11) telah merawat 63 orang yang menderita luka sedang dan stress.

Israel membalas dengan serangan udara, dan menyatakan militer membidik lokasi gerilyawan Jihad Islam dan skuadron peluncur rudal dan roket.

Jihad Islam telah mengatakan beberapa anggotanya lagi termasuk di antara orang yang tewas dalam perang pekan ini.

Para pejabat Palestina mengatakan delapan anggota keluarga yang sama, termasuk lima anak kecil, tewas dalam satu serangan Israel di bagian tengah Jalur Gaza.

Militer Israel mengatakan pria tersebut, yang menjadi sasaran dan tewas dalam serangan, adalah komandan unit roket Jihad Islam.

"Dia, seperti banyak orang lain, memiliki taktik menyembunyikan amunisi dan prasarana militer di kediaman mereka sendiri," kata Juru Bicara militer Jonathan Conricus.

"Tentu saja kami selalu berusaha mengurangi jumlah korban tewas atau cedera di pihak orang yang bukan petempur."

Tapi keluarga, tetangga dan seorang juru bicara Jihad Islam membantah bahwa ia anggota milisi tersebut, dan sebagian mengatakan ia sebelumnya telah bekerja sebagai perwira polisi militer di Pemerintah Otonomi Palestina (PA).

"Ini adalah kejahatan," kata tetangganya, Adan Abu Abdallah. "Kali membunuh anak-anak yang tak bersalah, yang sedang tidur di dalam rumah."

Tidak biasanya, Israel telah menyebut nama Jihad Islam dan bukan menganggap --kelompok yang menguasai Jalur Gaza-- bertanggung-jawab aas kerusuhan tersebut.

Banyak pengulas Israel mengatakan itu adalah tanda jelas bahwa militer Israel berusaha menghindari konflik yang lebih luas di Jalur Gaza, tempat Israel dan Palestina telah terlibat tiga pertempuran sejak 2008.

HAMAS telah berulangkali mengatakan kelompok tersebut takkan meninggalkan sekutunya, tapi keputusannya untuk tidak bergabung dalam pertempuran itu membantu memelihara gencatan rapuh yang telah menyaksikan jutaan dolar dalam bantuan Qatar mengalir ke daeran kantung miskin Jalur Gaza sejak tahun lalu.