Peluang Kerja Baru dan Kebutuhan SDM Siap Kerja di Perusahaan Teknologi

Merdeka.com - Merdeka.com - Sejumlah perusahaan rintisan (startup) teknologi di Indonesia gencar melakukan PHK massal baru-baru ini. Pandemi Covid-19 dua tahun belakangan yang memukul ekonomi nasional menjadi salah satu faktornya.

Apakah ini awal dari ledakan gelembung (bubble burst) startup di Indonesia memang masih perlu waktu pembuktian. Namun, faktanya kebutuhan tenaga kerja di perusahaan teknologi masih sangat besar, sedangkan pasokan tenaga kerja yang siap selalu lebih sedikit.

Indeed.com menyebutkan kesenjangan antara jumlah lowongan yang terbuka dan jumlah lulusan sangat tinggi. Ada 600.000 lowongan kerja setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun. Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan pekerjaan sehingga menghasilkan perbedaaan drastis.

Selain dampak global pandemi, otomatisasi dan robotisasi pun menambah risiko kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat. Menurut dalam Journal of Robotics and Control edisi November 2020, bahwa 56 persen karyawan saat ini menghadapi risiko tinggi otomatisasi pada 5 negara di Asia Tenggara.

Dalam konteks itu, Refocus, platfom pendidikan online hadir ke Indonesia yang menawarkan pendidikan untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap bekerja di sektor teknologi informasi.

"Konsep besar kami adalah mendukung ekosistem ekonomi digital di Indonesia berupa menyediakan talenta-talenta yang siap kerja di dunia digital," ungkap Roman Kumay Vyas, CEO & Founder Refocus, saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (31/5).

Menurut Roman, Indonesia punya potensi besar dengan populasi terbesar keemmpat di dunia yang mayoritas usia muda. Kami prediksi 40 persen dari pertumbuhan lowongan pekerjaan dalam dua tahun ke depan menghasilkan lowongan kerja sangat besar di pasar.

"Kami ingin orang-orang memiliki kesempatan edukasi yang baik serta keterampilan yang terpakai sehingga memungkinkan mereka mendapat penghasilan lebih besar, terus bertumbuh dan mengembangkan berbagai produk untuk mencapai tujuan mereka. Kami sendiri mengutamakan pengembangan Refocus secara regional, tim kami menetapkan misi untuk mampu melatih lebih dari 1.000.000 profesional di level internasional yang mampu menyelesaikan berbagai pekerjaan ambisius," ujar Roman.

Refocus sendiri masuk ke pasar Indonesia sejak Maret tahun ini, setelah hadir di Filipina pada awal tahun. Saat ini Refocus ingin menciptakan satu juta tenaga siap kerja di industri teknologi dalam waktu 7 tahun di kawasan Asia. Seperti data analyst, data scientist, web programmer, dan sebagainya.K

Ignatius Untung, mantan Ketua Umum IDEA (Asosiasi E-Commerce Indonesia), kini SVP Marketing Sayurbox, mengakui perusahaan teknologi sangat membutuhkan tenaga kerja yang siap kerja. Kebutuhan transformasi digital perusahaan akan membutuhkan seorang profesional yang mahir di dunia teknologi dan digital. Perusahaan akan mencari kandidat dengan keahlian di bidang teknologi, digital, dan e-commerce. Tenaga kerja dengan keterampilan membuat kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, pengalaman menangani pelanggan dan pengembangan produk akan sangat dibutuhkan ke depannya.

"Seperti talenta digital marketing yang sangat dibutuhkan sekarang," ujar Untung dalam kesempatan serupa.

Imeiniar Chandra, Director of Digital & Technology dari Michael Page, menambahkan perusahaan teknologi semakin banyak merekrut tenaga kerja baru untuk kebutuhan digitalnya. Beberapa pekerjaan yang sangat tinggi dicari korporasi itu adalah software developer/engineer, IX/UX expert, dan sebagainya.

"Dalam mencari pekerjaan, karyawan semakin tegas menentukan pilihan mereka. Brand perusahaan tidak lagi menarik. Talenta-talenta semakin mementingkan budaya perusahaan, tujuan perusahaan dan kepemimpinan dibandingkan merek perusahaan dan promosi," pungkas Imeiniar. [sya]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel