Peluang Reinfeksi Ada, Penyintas COVID-19 Pantang Kendor Jalankan Protokol Kesehatan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Data di berbagai negara termasuk Indonesia menunjukkan kasus reinfeksi COVID-19 bisa terjadi. Penyebab reinfeksi menurut data ilmiah yang diterbitkan Hongkong Medical Journal 2020 terjadi karena beberapa kemungkinan.

"Pertama, virus masih bersarang di dalam tubuh. Atau terjadi kontaminasi silang dari strain virus lain. Ketiga adanya hasil positif palsu dan keempat metode pengambilan yang salah," kata Koordinator Tim Pakar Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito.

Melihat adanya fakta di atas Wiku meminta penyintas COVID-19 tidak lengah dalam menjalankan protokol kesehatan."Tidak menjadikan alasan bagi penyintas COVID-19 untuk melupakan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan karena peluang reinfeksi COVID-19 ada," kata Wiku.

Bila penyintas COVID-19 mampu disiplin dan konsisten dalam menjalankan protokol kesehatan maka risiko terpapar kembali virus SARS-CoV-2 lebih rendah. "Hal ini bergantung pada upaya kita."

Virus Corona Masih Baru, Ilmuwan Masih Kaji Studi

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menekankan perubahan aturan pembatasan PPKM bukan semata-mata pelonggaran tanpa dasar saat konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (9/2/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menekankan perubahan aturan pembatasan PPKM bukan semata-mata pelonggaran tanpa dasar saat konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (9/2/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Pada prinsipnya, infeksi yang terjadi pada setiap orang itu menimbulkan efektivitas yang berbeda-beda. "Baik dalam kadar dan jangka waktu perlindungannya," kata Wiku.

Terlebih pada SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 merupakan virus baru, sehingga peneliti masih belum tahu mengenai berapa lama efek usai terinfeksi SARS-CoV-2.

"Terkait imunitas sesudah terpapar ini menjadi tanda tanya bagi ilmuwan. Hasil studi tentang hal ini masih amat dinamis," katanya.

Dalam kesempatan ini Wiku juga menekankan agar masyarakat berupaya meningkatkan imunitas tubuh. Saat imunitas baik, risiko sakit karena COVID-19 lebih rendah.

Ketika sebuah benda asing, mikroorganisme, virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, badan ini memiliki mekanisme pertahanan yakni imunitas tubuh untuk menghancurkan benda tersebut agar tidak membahayakan tubuh.

"Seperti saat virus SARS-CoV-2 masuk, maka sistem imun tubuh akan menghancurkan virus tersebut. Hal ini akan terjadi bila imunitas tubuh optimal. Bila tidak jadi lebih mudah sakit," terangnya.

Selama masa infeksi, tubuh merespons dengan menghasilkan sel darah puth salah satunya sel B yang memproduksi antibodi. Kehadiran antibodi ini menimbulkan kekebalan di kemudian hari bila terpapar benda asing. Namun, sekali lagi, virus Corona masih baru sehingga belum diketahui seberapa lama kekebalan tercipta.

Infografis

Infografis Kombinasi 3M Turunkan Risiko Tertular Covid-19 hingga 99,9 Persen. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Kombinasi 3M Turunkan Risiko Tertular Covid-19 hingga 99,9 Persen. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini: