Peluk Kelemahanmu, Jalani Hari Baru dengan Mencintai Diri Seutuhnya

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: A - Trenggalek

Kebencian terhebat adalah kebencian pada dirimu sendiri. Sebuah kalimat yang tidak sengaja aku temukan di salah satu blog dan sekarang terus terpatri di benakku. Ya, membenci diri sendiri. Rasanya aneh mendengar kalimat itu, tapi pada kenyataannya mungkin saja tanpa kita menyadari, sebenarnya kita telah membenci diri kita sendiri. Terkadang kita terlalu sibuk memberikan cinta kepada orang lain sehingga lupa memberikan cinta kepada diri kita sendiri. Kita mengabaikan keinginan hati kecil kita sendiri demi memenuhi tuntutan orang-orang di sekitar kita.

Jujur saja, aku terlahir di lingkungan keluarga yang tidak sempurna. Kami dari keluarga kecil yang sederhana di sebuah desa. Ayahku seorang pekerja. Beliau selalu menghabiskan waktu di luar kota sehingga intensitas pertemuan kami terbatas. Sedangkan ibu harus membanting tulang untuk menghidupi kami berdua karena ayah jarang memberikan nafkah yang pantas. Ibu selalu berangkat ke ladang pagi-pagi sekali dan pulang nyaris malam. Ketika aku pulang ke rumah kecil kami, aku selalu merasa bahwa rumah adalah sebuah ruang yang gelap dan dingin.

Sewaktu kecil, aku jarang menghabiskan waktu di rumahku sendiri. Aku selalu menghabiskan waktu di rumah temanku. Aku merasa bahwa rumah temanku itu adalah tempat teraman dan tempat di mana seharusnya aku pulang. Di sana aku merasakan kehangatan sebuah keluarga dan kasih sayang dari orang tua. Pada saat itu, mungkin aku mengira bahwa itu karena aku sudah terbiasa dengan mereka. Tapi sekarang aku berpikir, mungkin yang aku cari waktu itu adalah sebuah lingkungan yang bisa disebut keluarga.

Pada akhirnya, ibuku memutuskan untuk menjadi TKI karena bekerja di ladang tidak lagi mencukupi kebutuhan kami. Aku terpaksa hidup menumpang dari satu sanak ke sanak yang lain, sebelum akhirnya aku berakhir dalam asuhan ibu dari ayahku. Pertemuanku dengan ayahku semakin lama semakin berkurang sejak saat itu, apalagi ketika orang-orang di sekitarku mulai mengkritisi mengapa aku begini, mengapa aku begitu, ayahmu adalah orang seperti ini, ayahmu begitu. Apalagi dengan adanya wanita ketiga di kehidupan ayah dan ibuku.

Ayahku seolah menjadi standar pria yang jahat di mata orang-orang sekitarku. Acapkali orang-orang di sekitarku selalu membawa-bawa topik tentang ayahku saat berbicara denganku. Bahkan ada beberapa teman sekolah yang membawa-bawa masalah keluargaku saat berhadapan denganku atau menggodaku. Sejujurnya itu menyakitiku dan membuatku bertanya-tanya, “Apakah aku bersalah jika aku ingin bersama ayahku? Tapi dia ayahku. Tidak perduli seburuk apa pun beliau, aku adalah darah dagingnya.”

 

Kehilangan Rasa Percaya Diri

ilustrasi./Photo by Rio Kuncoro from Pexels

Sejak saat itu, perlahan-lahan aku mulai kehilangan rasa percaya diri sedikit demi sedikit. Aku menjadi sosok yang tertutup dan lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca. Aku jarang bergaul kecuali dengan orang-orang yang sebaya. Seringkali nenekku memaksaku untuk keluar dan berinteraksi dengan orang lain. Tapi aku bukan orang yang dengan mudah beradaptasi meski saat berada di sekolah aku adalah anak yang ceria dan unik—menurut teman-temanku. Aku mulai mempertanyakan eksistensiku di dunia ini. Terkadang aku berharap bahwa aku bisa tertidur untuk waktu yang lama dan berharap apa yang telah terjadi adalah mimpi.

“Mengapa aku terlahir di dunia ini? Mengapa aku tidak berguna? Mengapa hidup terkadang begitu melelahkan?”

Perlahan saat aku mendapatkan sedikit masalah dan aku tidak mampu menyelesaikan masalah itu, aku mengutuk diriku sendiri. Ketika aku gagal untuk memenuhi apa yang ibuku harapkan dariku, aku mulai memaki diriku sendiri. Entah sejak kapan, aku selalu berusaha keras untuk memenuhi apa yang teman-teman harapkan dariku. Aku bahkan terkadang lupa apa yang harus aku penuhi untuk diriku sendiri. Sedikit kesalahan kepada teman-temanku membuatku menyesal dan merasa bersalah kepada mereka. Perasaan-perasaan itu membuatku merasa ketakutan jika mereka akan meninggalkanku.

Pada masa remajaku, aku menghabiskan waktuku tanpa arah. Aku tidak memiliki mimpi, cita-cita, dan ambisi. Ibuku bahkan mengatakan itu padaku. Keadaan semakin buruk saat salah satu guru di sekolahku selalu membandingkanku dengan kakak kelasku yang cantik dan pintar, bahkan meremehkanku saat aku akhirnya memiliki sebuah mimpi. Sekolah terasa seperti di neraka.

Perceraian orang tuaku yang selalu aku kira-kira di benakku akhirnya terjadi. Dan untuk pertama kalinya, kekecewaan kepada ayahku tidak dapat aku bendung lagi ketika beliau menyalahgunakan kepercayaanku. Sekali lagi aku terjatuh. Aku kehilangan kepercayaanku kepada orang-orang terdekatku setelah berkali-kali aku merasa mereka menodai kepercayaanku kepada mereka. Dan rasa benci kepada diriku sendiri semakin besar.

Masa Lalu adalah Masa Lalu

ilustrasi./Photo by Erke Rysdauletov on Unsplash

Tapi masa lalu adalah masa lalu. Setelah aku melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, aku mulai mencoba menata diri, bertemu dengan orang baru, dan mulai belajar untuk kembali percaya kepada orang lain. Itu adalah proses yang sulit. Bahkan sampai saat ini, aku belum mampu untuk benar-benar berdamai dengan diriku dan juga masa laluku. Tapi tidak apa. Saat ini aku belajar untuk mencintai diriku sendiri. Aku percaya bahwa Allah menciptakan kita di dunia dengan sebuah misi. Allah tidak akan membiarkan makhluk-Nya untuk mengemban tugas di luar kesanggupannya. Allah tahu yang terbaik untuk makhluk-makhluk-Nya.

Dan di tahun 2020 ini, aku dengan bangga mempersembahkan diri kepada dunia. Aku siap untuk berdiri tegak lebih kuat lagi. Aku belajar untuk memeluk semua kelemahanku, menunjukkan betapa istimewa dan berharganya diriku. Sekarang aku dengan bangga berteriak kepada dunia, bahwa aku memiliki mimpi, cita-cita, dan ambisi. Percayalah, masih ada cahaya di ujung kegelapan.

 

P.S. Kepada Ibuku yang jauh di negeri seberang, aku ucapkan terima kasih banyak karena telah melahirkanku dan menuntunku untuk memeluk harapan-harapanku. Maaf aku belum menjadi seorang anak yang mampu memenuhi setiap harapan yang engkau miliki, walau aku tahu kau tidak menuntut semua itu. Tapi aku berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.

 

#GrowFearless with FIMELA