Peluncuran Buku Tandai 71 Tahun BBC London Siaran Indonesia

Donny Adhiyasa, Wahyu Firmansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – BBC London Siaran Indonesia menginjak usia ke-71 tahun pada tanggal 30 Oktober 2020 lalu. Untuk merayakannya ditandai dengan peluncuran buku berjudul 'London Calling: Pengalaman Bekerja di BBC'.

Buku itu dibuat berdasarkan catatan pengalaman 33 orang yang masih atau pernah bekerja untuk BBC Siaran Indonesia, ditambah dua catatan wafat (obituari) mengenai dua orang mantan Kepala Siaran Indonesia.

“Buku ini sebagai wujud persembahan dari kami untuk merayakan ulang tahun BBC Siaran Indonesia dengan penuh kesan. Melalui buku ini, setidaknya ada yang bisa kami catat sebagai kenangan untuk diri kami sendiri, keluarga, dan tentu saja para pendengar yang pernah memperhatikan, mendengarkan dan mengapresiasi pekerjaan kami dengan berbagai cara,” ujar Eka Budianta yang menggagas kelahiran buku ini, Sabtu 31 Oktober 2020.

Ide dan rencana pembuatan buku setebal 426 halaman itu berawal dari reuni virtual yang diikuti lebih dari 30 peserta. Sebagian dari mereka masih menjalani karier sebagai wartawan di lembaga penyiaran terkemuka itu, sebagian lainnya telah pindah dan menempuh karir di bidang atau di lembaga lain.

Baca juga: Alasan Beirut Lebanon Punya Julukan Ibu Kota Buku Dunia

Salah seorang peserta acara reuni itu adalah Rizal Sukma, Duta Besar Indonesia untuk Inggris (2016-2020) yang pernah bekerja sebagai produser paruh-waktu di BBC Siaran Indonesia sejak tahun 1994-1997, saat sedang menempuh studi Doktoral di London.

Rencana pembuatan buku yang diusulkan Eka Budianta dalam reuni tersebut, disetujui para peserta. Tim persiapan pun dibentuk, terdiri dari tujuh orang, termasuk Eka Budianta yang bekerja sebagai penyiar di BBC dari 1988 hingga 1991. Eka juga dikenal sebagai penyair.

Dalam tempo relatif singkat, kurang dari empat bulan, tim persiapan berhasil mengumpulkan 33 wartawan atau mantan wartawan BBC Siaran Indonesia lintas generasi, juga mantan staf dari bagian riset pendengar, yang bersedia menyumbangkan tulisan.

Dua obituari juga menjadi bagian dari isi buku, yaitu tentang Colin Wild, Kepala Siaran Indonesia selama dua dasawarsa (1972-1992), dan Menuk Suwondo yang dipercaya memegang posisi itu selama 15 tahun (1998-2013). Ditambah dengan kata pengantar atau pembuka dan penutup, buku ini memuat total 37 tulisan.

“Jumlah penulis yang bersedia untuk ikut dalam kegiatan ini sangat menggembirakan, lebih dua kali lipat dari apa yang diperkiran semula,” ungkap Eka Budianta.

Buku yang dicetak oleh penerbit Kosa Kata Kita (KKK) ini mengungkapkan berbagai aspek, mulai dari kisah bagaimana penulisnya bisa bekerja untuk lembaga media bergengsi itu, juga pengalaman profesional yang mereka jalani setelah menyandang nama besar BBC.

Para penulis yang dipekerjakan di kantor pusat BBC di gedung Bush House di jantung kota London juga mengungkapkan berbagai pengalaman pribadi selama menjalani hidup di London.

Beragam alasan yang memicu para penulis ini untuk bekerja di BBC dan semuanya tercatat dalam buku ini. Lebih dari itu, buku ini juga berisi pelajaran penting di bidang jurnalisme.

Sejumlah tulisan di buku ini juga mengungkapkan betapa pentingnya pelatihan dengan beragam topik, yang diberikan kepada para awak BBC, sejak pertama kali bergabung hingga bertahun-tahun setelahnya.

Di buku ini juga terlihat bagaimana BBC menempatkan riset khalayak sebagai instrumen penting untuk mengetahui tanggapan khalayak terhadap program dan acara yang disiarkan, sekaligus menampung usul dari mereka untuk memperkaya program.

“Cakupan topik di buku ini sangat kaya dan beragam. Membaca buku ini, seakan-akan masuk ke dapur BBC Siaran Indonesia dan mendapatkan resep berharga tentang bagaimana para wartawannya menyiapkan berbagai program untuk disajikan ke pendengar. Juga bagaimana mereka menyiapkan diri untuk melakukan liputan di lapangan,”ujar Arya Gunawan Usis, yang bekerja di BBC dari tahun 1995 hingga 2000, dan dipercaya menjadi ketua tim persiapan buku.

Arya menambahkan, dia tidak menduga bahwa buku ini dapat terwujud dengan isi yang begitu kaya seperti ini.

“Awalnya berupa angan-angan yang abstrak, bahkan terasa absurd. Apalagi waktu yang tersedia relatif amat singkat. Namun, dengan semangat kebersamaan yang tinggi, kami dapat mengubah angan-angan itu menjadi kenyataan. Together we can,” tegasnya.