Pemanfaatan riset kemasan masakan buka prospek "cuan" miliaran rupiah

M. Hari Atmoko

Pemanfaatan hasil riset dan teknologi pengemasan masakan tradisional seperti yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka potensi “cuan” atau untung hingga miliaran rupiah.

“Teknologi LIPI ini jelas akan terpakai apalagi kondisi masyarakat Indonesia, ya masyarakat globallah, lebih suka yang instan dari pada masak sendiri. Makanan instan besok pasti dicari,” kata Direktur Restoran Gudeg Bu Tjitro 1925 Burhanul Akbar Pasa kepada ANTARA di Yogyakarta, Jumat.

Ia menyebut prospek itu cukup bagus karena tidak semua orang bisa membuat gudeg.

Oleh karena itu, katanya, mereka pasti akan membeli jika ingin makan. Masakan tradisional khas Yogyakarta berbahan dasar gori atau nangka itu, tentu akan dicari wisatawan sebagai oleh-oleh.

Burhanul yang akrab disapa Danu tersebut, menyebut produksi gudeg kaleng Bu Tjitro mencapai 15.000 per bulan, dan biasanya dalam sebulan jumlah itu sudah terjual.

Dengan harga jual sekitar Rp30.000 per kaleng maka prospek penjualan gudeg komplit yang mampu bertahan hingga lebih dari setahun setelah dikalengankan tersebut, bisa mencapai miliaran rupiah dalam setahun.

“Jadi prediksi saya akan semakin naik ke depan. Semakin banyak wisatawan datang semakin banyak yang butuh membeli oleh-oleh khas Yogya ini, semakin naik peminatnya gudeg kaleng,” ujar dia.

Baca juga: Gudeg kemasan kaleng dikembangkan di Sleman

Danu mengatakan bahwa pihaknya memasang target peningkatan perjualan rata-rata 2.000 gudeg kaleng setiap tahunnya. Meski demikian, belum ada rencana melakukan ekspor dalam waktu dekat.

“Belum ada rencana kalau keluar negeri, target masih beberapa tahun ke depan. Tapi kalau ada 'buyer' (pembeli) berminat kita bisa siapkan,” katanya.

Kepala Balai Penelitian Teknik Bahan Alam LIPI Satriyo Krido Wahono mengatakan sebenarnya keinginan para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) masakan khas Indonesia untuk ekspor ada, seperti gudeg Bu Tjitro.

Namun, katanya, persoalannya masih ada di volume ekspor dan standarisasi yang diacu untuk kemasan kaleng masakan tradisional.

“Kita ‘lead’ di pengemasan makanan olahan dalam Prioritas Riset Nasional 2020-2024. Harapannya di akhir periode ada yang bisa penuhi standar pasar ekspor,” katanya.

Menurut dia, pasar Timur Tengah lumayan menjanjikan karena jumlah wisatawan rohani dan pegawai migran Indonesia cukup besar.

Ia mengatakan sejauh ini cara pemasaran produk masakan tradisional kalengan tersebut melalui biro umrah dan haji.

Baca juga: Pemerintah NTT diminta bangun rumah kemasan makanan
Baca juga: Cerdaslah dalam memilih makanan kemasan
Baca juga: Kalah soal kemasan, IKM makanan lokal akan dilatih intensif