Pembangunan bandara di Kaltara untuk dongkrak ekspor hasil kelautan

Pembangunan bandara khusus kargo di Kalimantan Utara dengan menggandeng investor dari Kanada dimaksudkan untuk mendongkrak ekspor hasil kelautan dengan pola kerja sama closed loop.

"Kerja sama close loop adalah melibatkan nelayan untuk bisa bekerja sama dalam membudidayakan produk kelautan," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan, Denon Prawiraatmadja dalam keterangan di Jakarta, Senin

Hal itu disampaikan seusai Penandatanganan nota kesepahaman bersama antara PT Whitesky Facility, Canadian Commercial Corporation, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) untuk melakukan studi dalam rangka pembangunan green airport, di Nusa Dua, Bali. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari pertemuan lanjutan B20.

Baca juga: Kadin datangkan investor Kanada studi bandara di Kaltara

Dikatakan Denon, dengan model ini pihaknya juga ingin membangun kemampuan para nelayan, mulai dari penangkapan ikan yang modern dan ramah lingkungan, pengemasan hingga pemasaran yang lebih baik dengan mengoptimalkan fungsi bandara untuk pengiriman.

Denon juga berharap pada 2024 studi dan profil investasi sudah dapat diimplementasikan di Kaltara, sehingga hal ini dapat mendukung pembangunan ekonomi daerah tersebut.

Pihaknya juga berharap pada 2024 di Kaltara sudah berdiri dan beroperasi green airport dengan pembiayaan dari investor Kanada.

“Dalam nota kesepahaman disepakati bahwa Canadian Commercial Corporation akan mendukung studi dan pengembangan green airport di Kaltara dengan total estimasi rencana investasi sebesar 200 juta dolar AS atau setara dengan Rp3 triliun,” katanya.

Baca juga: Pesawat delegasi KTT G20 tiba di Bandara Lombok

Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang menjelaskan sebagai provinsi termuda di Kalimantan yang memiliki luas hampir setengah Pulau Jawa pihaknya sedang gencar melakukan pembangunan.

Zainal juga menjelaskan bahwa saat ini daerahnya memiliki keunggulan dalam hasil budidaya perikanan seperti kepiting, ikan, dan udang.

"Namun selama ini penjualan hanya secara tradisional. Diharapkan dengan adanya bandara khusus kargo ini dapat meningkatkan perekonomian di daerahnya," katanya.

President and CEO Canadian Commercial Corporation, Robert Kwon mengatakan dari informasi awal yang didapatnya bahwa hasil kelautan dari Kaltara belum dioptimalkan dalam pemasaran dan pengemasan, sehingga banyak yang dijual secara mentah ke negara lain.

Ia menambahkan pada kerja sama yang telah dilakukan Canadian Commercial Corporation tidak hanya membangun bandara semata namun juga membantu memberikan teknologi kebandarudaraan yang ramah lingkungan dan efisien.