Pembangunan kawasan wisata Malang Heritage dimulai

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Pembangunan kawasan wisata Malang Heritage di wilayah Kayutangan, Kota Malang, Jawa Timur, dimulai dengan melakukan penutupan beberapa ruas jalan protokol di kota tersebut.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan bahwa penutupan ruas jalan protokol untuk pelaksanaan pembangunan kawasan Malang Heritage yang diharapkan menyerupai Malioboro di Yogyakarta itu, sempat tertunda.

"Kemarin (penutupan jalan) ditunda, karena masih ada hal-hal yang perlu dirundingkan dengan pelaku usaha," kata Sutiaji, di Kota Malang, Selasa.

Baca juga: Mengenal wisata edukasi tanaman aromatik khas Indonesia

Pada rencana awal, beberapa ruas jalan yang akan ditutup selama pembangunan kawasan Malang Heritage tersebut akan dilakukan pada 2 November 2020. Namun, pada akhirnya, penutupan baru dilakukan pada 9 November 2020.

Sutiaji menambahkan pada pekan lalu rencana terkait penutupan ruas jalan tersebut telah diinformasikan kepada masyarakat. Namun, memang diakui tidak semua warga Kota Malang mengetahui informasi tersebut.

Karena itu, lanjut Sutiaji, pada saat dilakukan penutupan total di area yang akan dibangun tersebut, kemacetan tidak dapat dihindari oleh pengguna jalan. Bahkan, dirinya mengaku juga sempat terjebak kemacetan akibat penutupan ruas jalan tersebut.

"Karena memang tidak diinformasikan dulu, titik mana yang akan bergeser. Seminggu lalu sudah ada sosialisasi, dan saya sendiri kemarin juga mengeluh karena tidak tahu mana yang ditutup," kata Sutiaji.

Baca juga: Ada 15 desa di Kudus bakal ditetapkan sebagai desa wisata

Sebagai catatan, ada dua titik utama penutupan ruas jalan yang memberikan dampak cukup besar terhadap arus lalu lintas di Kota Malang. Dua ruas tersebut adalah, simpang empat Rajabali, dan simpang tiga di depan kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kota Malang.

Ditutupnya dua titik tersebut memiliki dampak pengalihan arus lalu lintas bagi para pengguna jalan, dan menyebabkan kemacetan luar biasa. Penutupan dua titik utama tersebut dilakukan karena ada penggantian lapisan aspal dengan batuan andesit.

Dampak yang timbul akibat pembangunan tersebut, arus kendaraan mengalami kepadatan hingga di kawasan Tugu Kota Malang. Sutiaji meminta masyarakat untuk menyesuaikan diri sementara waktu selama proses pembangunan tersebut.

"Saya berharap masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan adanya proyek pembangunan ini. Memang pasti susah dulu untuk sementara, nanti pada akhirnya akan bagus," kata Sutiaji.

Kawasan Kayutangan, atau yang saat ini dikenal sebagai Jalan Basuki Rachmad merupakan pusat perdagangan, dan pertokoan pada masa Hindia Belanda. Di kawasan tersebut, berderet bangunan tua yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Saat ini kawasan tersebut merupakan pusat perkantoran, dan pertokoan. Di sepanjang Jalan Basuki Rachmad, terdapat beberapa gedung perbankan, dan juga pertokoan yang telah beroperasi sejak puluhan tahun lalu.

Pendanaan proyek pembangunan Malang Heritage di kawasan Kayutangan tersebut, sebagian besar berasal dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), dengan total mencapai Rp23 miliar.