Pembangunan Satelit Satria-1 Butuh Investasi Rp 7,68 Triliun

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Proyek pembangunan satelit Satria-1 masuk pada tahap pembiayaan proyek. Satelit ini nantinya akan menyediakan akses internet bari 150 ribu titik layanan publik di Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate, menyampaikan laporan pencapaian ini pada Peluncuran Program Konektivitas Digital 2021 dan Prangko Seri Gerakan Vaksinasi Nasional Covid-19, Jumat (26/2/2021).

Nilai proyek satelit ini dirinci, untuk capital expenditure (belanja modal) senilai Rp 7,68 triliun yang terdiri dari porsi ekuitas Rp 1,61 triliun dan porsi pinjaman Rp 6,07 triliun.

Pinjaman ini didanai oleh Bank Kredit Ekspor Prancis dan didukung oleh Banco Santander, HSBC Continental Europe, dan Korea Development Bank.

Selanjutnya, porsi pinjaman komersial didanai KDB dan Asian Infrastructure Investment Bank.

Layanan Tersedia pada Q3 2023

Seperti diketahui, penandatanganan dokumen atas proyek satelit Satria-1 ini telah dilakukan pada 24 Februari lalu.

“Tersedianya pembiayaan atas pryek ini, artinya menjadi satu bukti kepercayaan investor global dalam iklim investasi di indonesia,” kata Johnny.

Rinciannya, terdiri dari 3.700 fasilitas kesehatan, 93.000 sekolah dan pesantren, 47.900 kantor desa, dan 4.500 titik layanan publik lainnya. Dengan asumsi total kapasitas transmisi satelit sebesar 150Gbps, setiap titik akan mendapat kecepatan 1MBps.

Mengacu pada jadwal yang dibuat, pelayanan ini akan tersedia pada kuartal ketiga tahun 2023.

Proyek kerjasama dengan satelit nusantara-3 ini menggunakan teknologi high throughput satelite produksi Thales Alenia Space Prancis dengan pelucur roket produksi SpaceX yaitu falcon 95500 dari Amerika Serikat.