Pembangunan smelter harus mampu beri efek berganda ke masyarakat lokal

·Bacaan 2 menit

Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti Widya menyampaikan bahwa dukungan pemerintah penting dalam pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur, agar mampu memberi efek berganda ke masyarakat.

"Saya harapkan pembangunan smelter PTFI ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga multiplier effect (efek berganda) dari pembangunan smelter ini juga dirasakan oleh masyarakat lokal, baik masyarakat di Gresik maupun Jawa Timur," kata Dyah Roro Esti Widya dalam rilis di Jakarta, Selasa.

Dyah Roro juga menyampaikan bahwa pembangunan smelter PTFI di KEK Gresik ini baru mencapai progres 12 persen dan ditargetkan selesai pada 2023.

Baca juga: PT Freeport Indonesia jelaskan alasan Smelter dibangun di Gresik

Untuk itu, ujar dia, pihaknya akan terus rutin dalam melakukan pengecekan tentang bagaimana progres dari pembangunan smelter tersebut.

Dari segi hambatan, politisi Partai Golkar itu menyoroti infrastruktur akses jalan menuju lokasi smelter.

"Infrastruktur juga perlu diperhatikan, karena nanti akan berkaitan dengan akses logistik untuk pembangunan smelter ini," ujarnya.

Dyah Roro juga mengharapkan pembangunan smelter di dalam negeri yang merupakan suatu terobosan baru ini dapat menciptakan Indonesia yang independen dan mandiri, dan tidak bergantung pada smelter luar negeri.

Selain itu, ujar dia, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) agar pelaksanaan dan tujuan dari pembangunan smelter PTFI ini dapat berdampak positif, baik kepada masyarakat setempat maupun kepada negara.

Baca juga: Produksi tambang Freeport naik dibanding 2020

Pemerintah Indonesia menargetkan bisa meraup investasi sebesar 21,28 miliar dolar AS melalui peningkatan nilai tambah mineral mengingat jumlah cadangan dan produksi beberapa komoditas mineral Indonesia yang masuk 10 besar dunia.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan Indonesia menjadi daya tarik investasi pertambangan dengan salah satu potensi mineral paling dicari, yaitu nikel yang menempati posisi nomor satu dunia pada jumlah cadangan dan produksi.

Saat ini, Indonesia memiliki 19 unit pabrik pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter eksisting, 13 di antaranya adalah smelter nikel.

Pemerintah telah merencanakan pembangunan 17 smelter baru dengan nilai investasi 8 miliar dolar AS, sehingga total smelter nikel nantinya menjadi 30 unit. Pada 2023, pemerintah merencanakan ada 53 smelter yang beroperasi di Indonesia.

Demikian juga dengan komoditas lainnya, antara lain bauksit, besi, tembaga, mangan, timbal, dan seng. Nanti diperkirakan akan menarik investasi sebesar 21,28 miliar dolar AS.

"Kami mengharapkan progresnya akan diakselerasi pada tahun 2022, karena pada tahun 2023 adalah batas waktu untuk izin ekspor konsentrat. Smelter ini harus jadi," tegas Menteri Arifin.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel