Pembantaian PKI dan Banjir Bengawan Solo 1966

·Bacaan 2 menit

Solo - Tahukah Anda pembantaian yang melibatkan PKI pada 1965 di Solo ada kaitannya dengan banjir besar yang melanda Kota Bengawan 1966 silam?

Pada 1965, terjadi peristiwa pembantaian yang melibatkan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Solo.

Terdapat empat lokasi yang menjadi saksi bisu kekejaman partai komunis yang dipimpin oleh DN Aidit itu, yakni Gladak, Markas Besar PKI Honggowongso, Kedung Kopi, dan Jembatan Bacem.

Setelah peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI itu, konon katanya terus terjadi hingga 1966. Puluhan mayat ditemukan di bantaran Sungai Bengawan Solo dengan kondisi yang mengenaskan. Mereka diduga dibantai oleh anggota PKI.

Setelah kejadian itu, muncul banjir besar di Kota Solo pada Maret 1966. Menurut cerita yang diunggah oleh pengelola akun Instagram @misterisolo, banjir besar ini menghentikan berbagai aksi kekejaman PKI.

15 Maret 1966, turun hujan yang tidak biasa. Di mana hujan dengan volume besar tumpah ruang bersama butiran es yang mencekam. Hujan ini tidak berhenti hingga keesokan hari. Bahkan, beberapa tanggul jebol oleh luapan volume air ini. Hingga tanggal 18 Maret 1966, banjir sudah meredam seperempat kota ini. Kejadian ini sontak menjadikan gerakan pembersihan PKI berubah menjadi mengatasi dampak banjir,” beber pengelola akun Instagram @misterisolo di unggahannya pada Selasa, 14 September 2021 itu, dikutip Solopos.com.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Banjir Solo 1966

Menurut dia, banjir besar yang melumpuhkan Kota Bengawan itu berhenti ketika kemunculan perahu dengan kepala Kiai Rojomolo.

Ada sebagian orang yang percaya banjir besar ini merupakan kiriman dari penguasa Mataram. Mereka sengaja mengirimkan banjir di kota ini untuk menghentikan pembantaian PKI yang semakin membabi buta.

“Banyak yang menghubungkan bahwa banjir ini adalah kiriman dari danyang pemelihara tanah Mataram. Di mana pembantaian yang semakin membabi buta dikhawatirkan akan mengorbankan orang yang tidak terlibat apa-apa serta kondisi tanah dan air yang semakin merah karena darah yang dipercaya jika semakin dibiarkan akan banyak memberikan makanan demit liar dan jahat untuk berkembang,” tambah dia.

Sementara itu, kemunculan Kiai Rojomolo untuk mengatasi banjir besar di Kota Solo 1966 merupakan cara untuk memperbaiki cuaca dan melancarkan debit air.

“Percaya tidak percaya, namun setelah kemunculannya cuaca menjadi lebih baik, air menjadi lancar mengalir menuju alirannya, serta gerakan pembersihan PKI tidak dilanjutkan dan diganti dengan gerakan pembersihan kota,” pungkas dia.

Dapatkan berita Solopos.com lainnya, di sini:

Saksikan Video Pilihan Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel