Pembatalan Impor Beras Bakal Kerek Harga Gabah, Termasuk di Banyumas dan Cilacap

·Bacaan 2 menit
Pekerja menata susunan karung beras di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading, Kamis (18/3/2021). Seperti diketahui, saat ini Perum Bulog masih memiliki stok beras impor dari pengadaan tahun 2018 lalu. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Banyumas - Anggota Komisi IV DPR RI Sunarna meyakini penundaan rencana impor beras oleh pemerintah akan mendongkrak harga gabah di tingkat petani yang anjlok seiring dengan munculnya wacana tersebut pada saat panen raya.

"Presiden Joko Widodo telah menyatakan bahwa rencana impor beras ditunda sampai bulan Juni," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu siang, dikutip Antara.

Sunarna mengakui Komisi IV DPR RI khususnya Fraksi PDI Perjuangan menolak rencana impor beras karena saat panen raya seperti sekarang, petani di seluruh Indonesia dapat menghasilkan sekitar 14,6 juta ton gabah.

Jika 14,6 juta ton gabah tersebut setara dengan 9,2 juta ton hingga 9,4 juta ton beras sehingga tidak perlu untuk dilakukan impor beras.

"Kalau untuk impor seperti saat ini, menyulitkan (petani). Pejabat baru bikin 'statement' mau impor saja, sudah menyulitkan masyarakat," kata anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII Banyumas-Cilacap itu.

Ia menyebutkan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen di tingkat petani berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2020 sebesar Rp4.200,00 per kilogram.

Akan tetapi, saat sekarang harga gabah kering panen di tingkat petani berkisar Rp3.000,00—Rp3.200,00 per kilogram.

Tolak Impor Padi

"Kalau kita bicara panen raya 14,6 juta ton (gabah kering panen), selisih Rp1.000,00 saja, sudah melayang Rp14 triliun (uang) petani seluruh Indonesia. Tentu ini akan menyulitkan petani dan PDI Perjuangan konsisten betul bahwa kami menolak impor beras ini," kata Sunarna.

Dengan potensi panen sebesar 14,6 juta ton gabah tersebut, sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan dalam negeri karena Indonesia masih surplus beras 9,4 juta ton ditambah stok di Bulog masih 923.000 ton.

"Tentu ini penyerapan Bulog cukup dari hasil petani, belum perlu impor secara hitung-hitungan. Makanya, Bulog pun menolak untuk impor," kata mantan Bupati Klaten itu.

Terkait dengan harga gabah di tingkat petani yang telah turun drastis, dia mengatakan bahwa Bulog harus lebih giat dalam melakukan penyerapan.

Selain itu, kata dia, Presiden Joko Widodo juga telah menyampaikan bahwa rencana impor beras ditunda sampai bulan Juni, sedangkan panen raya berlangsung pada bulan Maret hingga April.

"Ini otomatis (harga gabah) akan naik lagi karena sudah ada putusan bahwa memang benar impor beras akan ditunda. Saya yakin, minggu-minggu besok harga gabah akan naik," katanya.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: