Pembatasan waktu berjualan kurangi pendapatan pedagang di Ragunan

·Bacaan 2 menit

Para pedagang yang menggelar barang dagangannya di Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan mengaku pendapatan mereka berkurang akibat adanya kebijakan pembatasan waktu penjualan yang diterapkan oleh pihak pengelola.

“Pendapatan saya sebenarnya berkurang. Tapi itu kan karena kuotanya dikurangi hanya 40 sampai 50 persen saja pengunjung di sini, jadi wajar dan disyukuri saja,” kata salah satu pedagang kerak telor Medi (51) yang ditemui ANTARA di Ragunan, Jakarta, Sabtu.

Medi menjelaskan bahwa penurunan pendapatan itu disebabkan oleh adanya kapasitas pengunjung yang dikurangi menjadi 50 persen atau setara dengan 30.000 pengunjung.

Baca juga: Ancol, TMII, dan Ragunan buka terbatas saat libur Tahun Baru

Baca juga: Pengunjung Ragunan masih 14.000 pengunjung

Pria yang menjual kerak telor seharga Rp20 ribu sampai Rp25 ribu tersebut, kini hanya bisa memiliki penghasilan Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per harinya. Sedangkan sebelum pembatasan menggunakan nomor itu diterapkan dapat mencapai Rp1.500.000.

Hal yang sama juga terjadi pada para pedagang di sekitar kawasan itu.

Menurut Medi para pedagang tidak bisa berdagang dengan leluasa seperti sebelumnya, karena pihak pengelola memberikan waktu bergilir untuk mereka berjualan.

Seperti dirinya yang mendapatkan giliran berjualan pada hari Sabtu dan Minggu saja. Dirinya mengaku sempat memberikan usulan kepada pihak pengelola untuk membuat aturan berjalan seperti biasa, namun ditolak karena alasan menjaga protokol kesehatan.

Meski Medi memaklumi alasan tersebut akibat situasi, namun dia tetap berharap kebijakan dari pihak pengelola maupun pemerintah setempat dapat membantu pedagang mencari nafkah dengan lebih baik lagi.

“Semoga kebijakan dari Pemda DKI saja yang harus di longgarkan kasihani yang berdagang,” kata dia.

Staf Pelayanan Informasi dan Kehumasan Taman Margasatwa Ragunan (TMR) Wahyudi Bambang mengatakan adanya kebijakan yang mengatur penggiliran para pedagang berjualan semata-mata untuk melindungi diri dari COVID-19.

“Protokol kesehatan itu yang paling penting. Pedagang kita batasi untuk beroperasi berdasarkan ganjil genap,” kata Bambang.

Bambang menjelaskan, para pedagang yang berjualan di Ragunan oleh pihaknya diberikan sebuah nomor urut yang dapat digunakan sebagai jadwal mereka.

Melalui nomor urut tersebut, para pedagang dapat menggelar barang dagangannya sesuai dengan bilangan yang tertera sesuai tanggal. Apakah mereka mendapatkan ganjil atau genap.

Hal tersebut bertujuan untuk memberikan jarak aman dan menghindari terjadinya penumpukan baik pada pedagang maupun pengunjung yang ingin membeli makanan maupun jajanan lainnya.

“Kalau ganjil, yang boleh datang yang datang hanya yang berisi nomor ganjil. Yang genap tidak diperbolehkan datang dulu. Jadi berurutan dan mereka tidak boleh bersama-sama (berkerumun),” tegas Bambang.

Baca juga: Naik Transjakarta ke Ragunan gratis

Baca juga: Ragunan siap hadapi libur Natal dan Tahun Baru

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel