Pemberdayaan ekonomi warga dengan optimasliasi aset Pemkot Surabaya

Pemerintah Kota Surabaya kini giat mengupayakan pergerakan roda ekonomi masyarakatnya, apalagi usai didera pandemi COVID-19. Upaya yang merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ini memanfaatkan aset-aset berupa bangunan milik pemerintah untuk kegiatan usaha para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dari kalangan MBR.

Salah satu aset milik Pemkot Surabaya yang telah digunakan tempat usaha MBR berada di Jalan Nias No. 110 Gubeng Surabaya. Rumah padat karya bernama Viaduct Gubeng dengan luas total 857 meter persegi ini dimanfaatkan untuk pemberdayaan beberapa unit usaha bagi MBR mulai dari pangkas rambut, kedai kopi hingga cuci motor dan mobil.

Rumah Padat Karya Gubeng adalah bangunan rumah zaman dulu, sehingga dinilai cocok apabila digunakan untuk kafe atau rumah makan dengan konsep heritage. Bangunan itu dibuat layaknya kafe dengan lantai ubin teraso.

Menu makanan yang tersedia di Viaduct Gubeng menggunakan bahan dasar dari rempah-rempah mulai dari menu makanan berupa nasi goreng rempah, mi hingga sayur sop. Hingga kini, Rumah Padat Karya Gubeng telah menyerap 20 tenaga kerja dari MBR.

Upaya pemkot itu mendapat dukungan Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti. Selain strategis karena berada di tengah kota, Reni menilai juga bermanfaat untuk penyediaan lapangan pekerjaan. Ini adalah salah satu model aset untuk kegiatan non pertanian, yang bisa dicontoh oleh camat dan lurah lainnya.


Pavingisasi

Upaya untuk menggerakkan roda perekonomian warga, Pemkot Surabaya juga menggunakan cara-cara produktif lainnya. Untuk menyukseskan program padat karya misalnya, salah satu program yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya adalah dengan pelatihan pembuatan paving.

Seorang warga dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Surabaya sedang mengikuti program padat karya pembuatan paving. (ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya)
Seorang warga dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Surabaya sedang mengikuti program padat karya pembuatan paving. (ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya)

Peserta pelatihan itu berasal dari beberapa kecamatan di Surabaya. Untuk pelatihan perdana, ada sebanyak 20 MBR yang berasal dari Kecamatan Tambaksari, Bubutan dan Genteng. Mereka dilatih oleh tim profesional yang bekerjasama dengan DSDABM.

Mereka dilatih dari awal hingga proses akhir pembuatan paving, termasuk mengoperasikan mesin pencetak paving. Tentunya, paving yang mereka buat berbeda dengan paving pabrikan yang banyak beredar di masyarakat, terutama soal kekuatan bebannya.

Kebutuhan pemkot akan paving itu bukan hanya paving pabrikan, tapi juga butuh paving yang manual seperti yang dibuat oleh para peserta pelatihan ini. Hal ini dibenarkan Kepala DSDABM Surabaya Lilik Arijanto.

Makanya, hasil paving yang mereka buat nanti akan diletakkan di gang-gang dan taman-taman, sehingga kekuatan untuk menahan berat masih ringan, karena kalau di taman itu kan hanya digunakan untuk pejalan kaki, bukan kendaraan yang berat-berat.

Bagi Budi Prasetyo, salah satu peserta pelatihan paving dari Kelurahan Embong Kaliasin, Genteng, pelatihan itu sangat bermanfaat karena bisa memberikan keterampilan dan bisa mengembangkan perekonomiannya. Apalagi, dalam pelatihan itu diajari dan dilatih dari awal hingga bisa membuat paving.

DSDABM Surabaya saat ini meningkatkan kualitas produksi dari MBR yang mengikuti program padat karya pembuatan paving. Untuk mutu paving sebenarnya yang ditargetkan adalah minimal K175, tapi dalam faktanya yang dihasilkan MBR itu lebih tinggi dari yang ditetapkan.


Manfaatkan lahan tidur

Bentuk lain dari padat karya guna menunjang bergeliatnya perekonomian warga adalah memanfaatkan lahan tidur atau lahan Bekas Tanah Kas Daerah (BTKD) untuk pemberdayaan bidang usaha pertanian. Salah satu aset BTKD seluas 250 hekatare yang dikelola MBR ada di Gendong.

Untuk tahap awal, lahan yang sudah dimanfaatkan untuk tambak seluas 5,5 hektare. Lahan tambak tersebut dimanfaatkan untuk budidaya Ikan Bandeng dan udang. Setelah itu, bibit ikan dan udang itu dikelola oleh MBR dan hasilnya juga akan dimanfaatkan.

Bukan hanya aset BTKD saja yang digunakan sebagai Padat Karya, tetapi juga lahan yang ada di Taman Raya Hutan Pakal dan Wisata Pesisir Romokalisari.

Setelah panen, Pemkot Surabaya membagi hasil dengan warga MBR yang mengelola. Caranya, yaitu diambil 20 persen dari hasil panen untuk dibelikan bibit baru. Setelah itu seterusnya, warga yang mengelola itu akan menggunakan uang hasil dari panen untuk membeli bibitnya. Setelah hasilnya ada, 20 persen diambil dulu untuk beli bibitnya.

Saat ini, sudah bisa menyerap sekitar 150 orang tenaga kerja yang menggarap 5 hektare dari 250 hektare lahan tembak di Gendong.

Pemkot juga mengajarkan bagaimana warga MBR ini menjadi entrepreneur dan pemkot yang memfasilitasi. Artinya, lahannya tetap milik pemkot tapi permodalannya dan yang lainnya nanti sudah jadi milik masyarakat.


SKG Reborn

Untuk mendukung pemasaran atau penjualan produk para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Surabaya, maka dikembangkan Surabaya Kriya Gallery (SKG) Reborn di Jalan Dr. Ir. H. Soekarno No. II, middle east ring road (MERR).

SKG Reborn yang dibuka pada 7 Maret 2022 ini bertujuan untuk menaikkan kelas UMKM Kota Surabaya. Selain itu, produk-produk hasil buatan UMKM saat ini tidak kalah dengan kualitas buatan pabrik. Bukan sekadar naik kelas, akan tetapi juga untuk menaikkan penjualan UMKM.

Sebelum produk UMKM itu dipasarkan di SKG ini, Pemkot Surabaya memberikan arahan bagaimana memasarkan produknya lewat digital dan lain sebagainya. Selain naik kelas, pemkot menargetkan 250 ribu UMKM onboarding alias go digital untuk masuk ke semua lini marketplace.

SKG Reborn bagian dari komitmen Pemkot Surabaya mewujudkan padat karya UMKM. Padat karya ini untuk menggerakkan kembali roda perekonomian pascapandemi COVID-19 sekaligus mendorong kualitas produk UMKM yang lebih baik lagi.

SKG Reborn bukan hanya ada di MERR, tapi juga di tempat lain seperti di Gedung Siola, Kebun Binatang Surabaya (KBS), RSUD BDH, Sentra Ikan Bulak (SIB), Terminal Joyoboyo, Park and Ride lantai 2 Jalan Mayjen Sungkono, UPTSA Timur Jalan Menur No. 31C, Park and Ride Jalan Arif Rahman Hakim No.100 dan Parkir Bus Kawasan Wisata Religi Ampel.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Indonesia (Dekranasda) Surabaya Rini Indriyani sendiri menyebut SKG Reborn ini adalah rebranding Sentra UMKM yang pernah ada. SKG Reborn ini bukan sekadar wadah untuk para pelaku UMKM memasarkan produk terbaiknya, selain itu juga dijadikan sebagai destinasi wisata belanja di Kota Surabaya.

Saat pandemi COVID-19 pada 2021, pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya melampaui kinerja Jawa Timur, bahkan Nasional. Peningkatan itu tercatat dari tahun 2020 terkontraksi minus 4,85 persen, kemudian melompat ke angka 4,29 persen pada tahun 2021.

Lompatan pertumbuhan ekonomi Surabaya pada tahun 2021 tercatat signifikan, yakni sekitar 8 poin. Bahkan, lompatan tersebut melampaui kinerja pertumbuhan ekonomi Nasional (3,69 persen) dan Jawa Timur (3,57 persen). Pada tahun 2022 ini, perputaran ekonomi Surabaya ditargetkan meningkat di atas 7 persen.


"Dandan Omah" dan maggot


"Dandan Omah" merupakan program perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu) berbasis padat karya. Program tersebut diharapkan menjadi stimulan dan mendongkrak ekonomi kerakyatan pada 154 kelurahan se-Surabaya.

Pada 2022, "Dandan Omah" menyasar 800 Rutilahu yang lokasinya tersebar di 154 kelurahan Surabaya. Sebanyak 800 Rutilahu itu merupakan sebagian dari 3.450 jumlah total usulan RT/RW yang disampaikan melalui kelurahan dan kecamatan.

Pekerjaan "Dandan Omah" ini melibatkan Kelompok Teknis Perbaikan Rumah (KTPR) atau pekerja yang berasal dari warga sekitar. Setiap satu unit rumah yang dibedah, dikerjakan oleh 4 orang pekerja dengan estimasi pekerjaan selama 20 hari.

Sedangkan untuk anggaran pada tiap unit rumah itu sebesar Rp35 juta. Program "Dandan Omah" di Kota Surabaya bisa dibilang berbeda dengan daerah lain di Indonesia karena mampu menyerap 3.200 tenaga kerja yang merupakan warga di wilayah sekitar. Bahkan pula melibatkan 154 toko galangan di kelurahan masing-masing dengan dana berputar mencapai Rp28 miliar.

Saat ini, warga MBR di Krembangan, Surabaya, juga mengembangkan budi daya maggot yang merupakan larva lalat black soldier fly (BSF). Mereka memproduksi maggot 100 kilogram per hari, dan sebenarnya itu bisa digenjot lagi hingga 150-175 kilogram per hari dengan fasilitas yang ada.

Budi daya maggot selain sebagai salah satu solusi mengatasi masalah sampah juga berguna untuk pakan bagi hewan unggas, burung dan ikan.

Bahkan sudah ada salah satu pabrik yang meminta maggot 6 ton per hari kepada Pemkot Surabaya. Kalau bisa memenuhi 6 ton per hari, dipastikan akan banyak tenaga kerja yang terserap dari MBR Krembangan.

Bahkan, kalau maggot lalat itu bisa dikeringkan dan dikirim ke luar negeri atau ekspor, bisa dijual hingga 4 dolar AS.

Pemkot Surabaya melalui berbagai programnya berusaha untuk semakin memberdayakan perekonomian masyarakatnya. Dengan ekonomi bergerak, diharapkan warga miskin dengan penghasilan rendah, dapat terentas.