Pemberdayaan perempuan wirausaha dinilai percepat kesetaraan gender

Chair of B20 Indonesia Shinta Kamdani menyatakan pemberdayaan kewirausahaan perempuan menjadi kunci untuk mengakselerasi percepatan kesetaraan gender dalam perekonomian.

“Dalam Presidensi B20 Indonesia yang saya ketuai tahun ini, kami memberi perhatian besar pada isu perempuan dan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah)," kata dia dalam kick-off AKSI (Akselerasi Bisnis) Perempuan yang diadakan Stellar Women dan Tjufoo di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, hal itu secara khusus menjadi fokus dalam Woman In Business Action Council, salah satu dari tujuh gugus B20 Indonesia yang menjalankan fungsi menghasilkan policy recommendation bagi G20.

Baca juga: Dukung praktik keberlanjutan, Kadin siapkan panduan investasi lestari

Melalui gugus tugas tersebut, lanjutnya, B20 Indonesia berupaya menciptakan pemulihan ekonomi global yang lebih inklusif pada masa depan melalui rekomendasi kebijakan dalam mengatasi isu gender.

Dia mendorong komunitas bisnis mengambil langkah strategis tegas dan tepat agar lebih banyak perempuan memiliki akses ke bisnis dan ekonomi yang luas melalui rekomendasi kebijakan aksi dalam tiga tema kunci.

Pertama ialah memberdayakan perempuan wirausaha, lalu mendorong kemampuan dan kepemimpinan perempuan, serta mendorong lingkungan kerja yang adil dan aman.

Baca juga: Sri Mulyani: SDM hingga kesetaraan gender jadi aspek penting Visi 2045

Sebagai upaya memberdayakan perempuan wirausaha, pihaknya membangun ekosistem utama yang dapat memberikan akses pada bantuan finansial, regulasi, hingga akses ke bantuan teknis bagi pelaku usaha serta pengembangan jaringan bisnis perempuan dalam skala global.

Selain itu, pihaknya juga membekali para pebisnis perempuan dalam skala UMKM melalui platform one global women empowerment untuk meningkatkan kemampuan digital, serta memberikan mereka akses pendanaan dan investasi.

“Untuk mendorong kesetaraan gender dibutuhkan collective action. Sebagai pelaku usaha, langkah penting yang kami ambil adalah mendorong perusahaan mengadopsi kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan perempuan,” ucapnya yang juga menjadi CEO Sintesa Group.

Beberapa kebijakan yang bisa diambil antara lain memastikan persentase komposisi pekerja perempuan dan laki-laki secara setara, mempromosikan kebijakan yang memberikan peluang kerja setara di antara laki-laki dan perempuan, mengupayakan kesetaraan upah dan remunerasi, serta menerapkan pendekatan genderless dalam praktik pengelolaan sumber daya manusia.

Baca juga: KADIN ingatkan pasar kerja inklusif gender kunci transformasi

Hal tersebut bisa dimulai dari proses perekrutan hingga evaluasi kinerja. Perusahaan disebut dapat pula melakukan pelatihan manajerial dan karyawan untuk memberikan pemahaman dengan tepat dalam mengatasi stereotip gender mulai dari dampak dan penyebab dari ketidaksetaraan gender.

“Ini merupakan salah satu hal yg mendorong saya sebagai CEO Sintesa Group untuk berkomitmen atas goal 5 SDG (Sustainable Development Goals) dan gender equality yang dituangkan dalam route map SDG Sintesa untuk Bumi,” ujar Shinta.