Pembunuh berantai dari Agam, tusuk leher korban dua kali

MERDEKA.COM. Wisnu Sadewa (32), mengelabui korbannya dengan mengaku sebagai Rani Nurdiati, mahasiswi Universitas Negeri Padang. Saat kopi darat, dia membunuh Rusyada Nabila (16) yang baru dikenalnya dua pekan.

Saat menjebak korban, Wisnu sempat mendapat perlawanan dari Nabila. Dia pun mengeluarkan pisau yang sudah disiapkan dan menusukkan ke leher belakang Nabila yang membuatnya terguling jatuh.

Melihat Nabila masih menjerit, Wisnu kemudian memburunya dan menusukkan pisau dapur dua kali ke leher kiri dan kanan, hingga Nabila tidak bergerak lagi.

Dia kemudian membuka kaos korban, dan melilitkannya ke leher korban untuk memastikan Nabila tewas. Wisnu langsung menutupi jasad Nabila dengan daun-daun. Setelah itu dia mengambil cangkul dan membuka celana jeans korban dan mengikatkan pada kaki. Tubuh korban diseret ke sebuah ladang di bawah bukit di kaki Gunung Singgalang.

Jasad Nabila kemudian dikubur dalam lubang sedalam setengah meter. Tak lupa Wisnu mengambil perhiasan korban. Kabid Humas Polda Sumbar, AKBP Mainar Sugianto mengatakan Wisnu beraksi sendiri. "Dia mengaku melakukan pembunuhan seorang diri," ujar Sugianto saat dihubungi merdeka.com, Kamis (2/5).

Di depan polisi, Wisnu juga mengaku membunuh Novrida Yanti (23), warga Jorong Balai Badak, Kenagarian Batukambiang, Kecamatan IV Nagari, Agam. Motifnya sama. Dia menggunakan akun Facebook bernama Amel untuk berkenalan dengan Yanti.

Pertemanan mereka berlangsung selama satu bulan sebelum Wisnu mengajak Yanti bertemu di Bukittinggi. Wisnu mengaku diminta Amel untuk menjemput korban.

Tanpa rasa curiga, Yanti menurut ajakan Wisnu. Mereka memutuskan naik angkutan umum menuju Padangpanjang dan turun di simpang Padanglua. Ketika itu hari sudah malam. Wisnu mengajak Yanti naik ojek dengan cara bonceng tiga menuju daerah Kotogadang.

Setelah sampai di tujuan sekitar pukul 21.00 WIB, tersangka menunjukkan kalau rumahnya ada di tengah sawah, berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya dan harus lewat pematang sawah.

Ketika berada di semak-semak, Wisnu kemudian beraksi mencekik leher korban. Jilbab yang dipakai korban dililitkan di leher sehingga Yanti tak bisa bergerak. Setelah yakin, korbannya meninggal Wisnu kemudian melucuti perhiasan korban, handphone, dan uang sebesar Rp 150 ribu dari dompet. Korban ditinggalkan begitu saja. Pembunuhan itu terjadi beberapa bulan lalu.

Polisi kemudian melakukan penyisiran di daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Rabu (1/5) kemarin. Ditemukan beberapa potong pakaian termasuk tulang belulang dan tengkorak Yanti. Saat penyisiran itu, tersangka berupaya kabur dan sempat ditembak di kaki.

Wakapolres Kota Bukittinggi Arif Budiman, menyebutkan pihaknya belum bisa memastikan kerangka manusia tersebut milik Yanti atau bukan meski sudah diakui Wisnu.

"Tim forensik akan melakukan pemeriksaan gigi dan tulang kaki di mana pemeriksaannya dilakukan di Jakarta guna memastikan tulang itu milik Novrida Yanti," katanya.

"Di lokasi, petugas menemukan tulang belulang kerangka manusia yang berserakan serta pakaian yang telah kusam. Setelah dikumpulkan, kerangka manusia tersebut dibawa ke Rumah Sakit," kata dia.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.