Pemda dan Polri Langganan Diadukan ke Ombudsman  

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah daerah dan kepolisian kembali menjadi lembaga yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Ini tercatat dalam laporan akhir tahun lembaga negara pengawas penyelenggaraan pelayanan publik, Ombudsman Republik Indonesia.

Anggota Ombudsman Bidang Penyelesaian Laporan atau Pengaduan, Budi Santoso, mengatakan, dari 2.024 laporan yang diterima lembaganya, ketidakpuasan pada pemerintah daerah menempati urutan pertama dengan jumlah 33,5 persen.

"Ada 669 pengaduan dari keseluruhan laporan yang diterima," ujar dia di kantornya, Rabu, 19 Desember 2012. Instansi yang paling menjadi sorotan masyarakat ada pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota sebesar 66 persen. Kemudian kelurahan 18,8 persen.

Urutan selanjutnya ditempati oleh kepolisian, yang menyumbang angka 17,59 persen atau 356 laporan. Menurut dia, polres mendapat jumlah keluhan yang paling banyak sebesar 39,6 persen. Kemudian polda 23,2 persen dan polsek 16,7 persen.

Di posisi ketiga, ada kementerian yang memiliki 12,94 persen atau 262 pengaduan masyarakat. Tiga kementerian yang paling banyak dilaporkan adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 28,2 persen; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 20,6 persen; dan Kementerian Agama 8,5 persen.

Lalu posisi keempat diduduki Badan Pertanahan Nasional (BPN) dengan 7,95 persen atau 161 laporan. Dengan porsi BPN RI 46,6 persen; kantor pertanahan 42,4 persen; dan kantor wilayah pertanahan 11,3 persen.

Instansi terakhir adalah lembaga pengadilan sebanyak 7,26 persen atau 147 pengaduan. Dengan porsi pengadilan negeri sebanyak 70,5 persen; Mahkamah Agung 18,0 persen; dan pengadilan agama 4,3 persen.

Dari banyaknya laporan ini, Budi melanjutkan, sebagian di antaranya telah diselesaikan oleh Ombudsman. "Sekitar 96 persen sudah ditindaklanjuti, 43 persen sudah diselesaikan," ucap dia.

NUR ALFIYAH

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.