Pemda Kini Lebih Mudah Kembangkan Kota Pintar, Ini Buktinya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Semakin majunya teknologi dan tersedianya infrastruktur berbagi pakai atau user sharing, membantu mempercepat pengembangan smart and sustainable city atau kota pintar dan berkelanjutan di Indonesia. Bahkan implementasinya menjadi lebih maksimal.

Karena itu, Presiden Direktur Lintasarta Arya Damar mengungkapkan, saat ini Pemerintah Daerah jauh lebih dimudahkan dan lebih murah ketimbang dulu, jika ingin mengembangkan konsep kota pintar dan berkelanjutan.

Sebab, dengan tersedianya infrastruktur berbagi pakai, para Pemda tidak perlu lagi memikirkan masalah infrastruktur telekomunikasi, data center, network, security, sampai cloud.

"Semua sudah bisa di-outsource ke pihak lain dengan biaya yang jauh lebih murah. Yang dibutuhkan oleh Pemda adalah aplikasinya. Yang cocok dan yang dibutuhkan tergantung karakteristik daerahnya," ujar Arya dalam webinar SAFE Forum 2021, Selasa, 24 Agustus 2021.

Pengembangan smart and sustainable city ini pun terbukti memberi manfaat yang besar bagi beberapa daerah. Hal itu diakui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Surabaya, Muhammad Fikser.

Menurut dia, manfaatnya antara lain terlihat nyata ketika Pemerintah Kota Surabaya mendorong peningkatan ekonomi Surabaya yang sempat menurun akibat dampak Pandemi COVID-19. Melalui inovasi aplikasi e-Commerce lokal yang diberi nama e-Peken, Pemkot Surabaya mampu menggerakan kegiatan ekonomi para pelaku UMKM dan pedagang toko kelontong di daerah itu.

Sebagai langkah awal, implementasinya diwajibkan bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkot Surabaya. Mereka wajib berbelanja kebutuhan bahan pokoknya di e-Peken.

“Kami di Surabaya kurang lebih ada 13 ribu ASN, dan semua ASN ini sekarang wajib belanja lewat e-Peken,” kata Fikser.

Baca juga: Menaker: Sejumlah Negara Tolak Pekerja RI yang Divaksin Sinovac

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Semarang, Bambang Pramusinto mengungkapkan, konsep pengembangan smart and sustainable city di Kota Semarang tidak semata-mata hanya terkait pada pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Melainkan juga pada pengembangan non TIK. Dengan demikian hasilnya akan lebih maksimal dirasakan oleh warga.

“Yang ending-nya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Bambang.

Lepas dari segala manfaat tersebut, pemanfaatan teknologi dalam smart city sebaiknya tidak mengganggu kelestarian bumi. Sebab hal tersebut berkaitan erat dengan prinsip ekonomi berkelanjutan.

Hal itu dikemukakan oleh Senior Engineer 3M Amos Wong. Menurutnya, ketika membicarakan kota pintar, Pemda sebaiknya tidak hanya cerdas dalam menggunakan teknologi untuk kesejahteraan masyarakatnya. Tapi, juga cerdas memikirkan efek jangka panjangnya terhadap bumi.

"Terkait itu 3M berupaya ikut memastikan agar penggunaan teknologi dalam pengelolaan smart city bisa dilakukan tanpa menggunakan energi secara berlebihan," singkatnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel