Pemecatan, seruan hitung ulang: Usaha mati-matian Trump dalam membatalkan pemungutan suara

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Memecat kepala keamanan pemilu AS dan menekan para pejabat lokal agar mencampakkan suara sah, Presiden Donald Trump dan Partai Republik membuat upaya mati-matian -meskipun mungkin sia-sia- untuk membatalkan kemenangan Joe Biden dalam pemilu.

Trump pada Rabu tidak menunjukkan tanda-tanda mau menghentikan kampanyenya dalam menggugat hasil pemungutan suara 3 November yang hanya dia dan para pendukungnya yang paling setia yang tak mau menerimanya.

Dua pekan setelah Hari Pemilu ketika kemenangan Biden sudah diakui di seluruh dunia, dan timnya bekerja keras bersiap untuk menjabat, Trump sepertinya yakin dia bisa menabur cukup banyak keraguan untuk menunda atau bahkan mencegah Demokrat resmi disertifikasi sebagai pemenang.

"SAYA MENANG PEMILU. PENCURANGAN PEMILIH DI SELURUH NEGARA!" cuit Trump tanpa bukti.

Trump mengumumkan Selasa malam bahwa dia telah memecat sumber utama bukti sebaliknya, kepala keamanan pemilu federal Chris Krebs, yang departemennya telah menyatakan pemilu tahun ini "pemilu paling aman dalam sejarah Amerika."

Pemecatan itu membuat marah baik Demokrat maupun Republik yang menemukan tak ada yang salah dari upaya Krebs dalam memastikan sistem pemungutan suara berfungsi dan melindunginya peretasan baik dari asing maupun domestik.

Namun, Badan Keamanan Siber dan Keamanan Infrastruktur (CISA) bentukannya benar-benar membuat marah tim kampanye Trump dengan memasang halaman web "Rumor vs Reality" yang diabdikan untuk menyanggah klaim palsu kecurangan pemilu yang kebanyakan di antaranya ditudingkan oleh Trump sendiri.

Tanpa memberikan bukti, juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany berkata dalam acara "Fox and Friends" Rabu bahwa Krebs mungkin memiliki "agenda partisan" atau "masalah pribadi" yang "sepertinya ditujukan langsung kepada presiden ini."

"Presiden percaya dan begitu juga banyak orang lain bahwa jika setiap suara sah dihitung, maka dia akan tetap menjadi presiden," kata dia.

Pada Rabu, Biden unggul 5,8 juta suara atas Trump dari lebih dari 155 juta suara yang dihitung, berdasarkan angka resmi negara bagian yang mendekati final, dan mayoritas 306 melawan 232 suara Electoral College per negara bagian yang memutuskan kemenangan pemilihan presiden.

Tim kampanye Trump fokus kepada proses pengadilan penghitungan suara di tujuh negara bagian.

Secara teoritis, jika sebagian besar terbalik, maka itu bisa memberikan kemenangan Trump. Tetapi itu berarti mesti mencari kesalahan pada ratusan ribu suara.

Sejauh ini, kampanye Trump baru menemukan ratusan saja.

Upaya ini mencakup lusinan tuntutan hukum yang diajukan dengan klaim kecurangan pemilu yang kencang yang hampir semuanya telah ditolak langsung oleh hakim karena kurangnya bukti.

Pada Selasa, seorang hakim Pennsylvania menantang pengacara pribadi Trump Rudy Giuliani agar mendukung tudingan kecurangan pemilu dalam kasus yang sebenarnya difokuskan pada apakah petugas pemungutan suara telah dengan benar mengikuti prosedur.

Giuliani akhirnya mengakui,"Ini bukan kasus penipuan."

Giuliani "hanya membicarakan konspirasi kecurangan besar-besaran," kata Mark Aronchick, yang mewakili kepentingan negara bagian itu dalam kasus tersebut, kepada CNN.

"Itu tidak ada hubungannya dengan apa yang sebenarnya kami lakukan di pengadilan."

Sekutu-sekutu Trump juga mengecam para pejabat lokal yang menunda sertifikasi penghitungan suara.

Itu termasuk menyerang pejabat pemilihan teratas di Georgia yang biasanya condong ke Republik, yang secara mengejutkan memilih Biden.

Brad Raffensperger, sekretaris negara bagian Georgia, mengatakan dia mendapatkan ancaman pembunuhan dan bahwa seorang senator senior dari Partai Republik, Lindsey Graham menekannya agar mendiskualifikasi surat suara resmi yang dikirim melalui pos.

Graham membantah melakukan kesalahan ketika Demokrat menuduh dia melakukan campur tangan yang koruptif dalam pemilu.

Di Michigan pada Selasa, Partai Republik dalam dewan pemilu di Detroit, distrik pemungutan suara terbesar dan paling Demokrat di negara bagian itu, menolak mengesahkan penghitungan karena perbedaan suara yang sangat kecil.

Di bawah tekanan yang berlangsung sampai larut malam, Partai Republik berbalik sikap. Tetapi insiden itu menunjukkan seberapa jauh para pendukung Trump akan membela klaim dia bahwa dia kemenangannya dalam pemilu telah dirampok.

"Di Detroit, ada suara yang jauh lebih banyak daripada penduduknya," cuit Trump, tanpa disertai bukti.

Penolakan semacam itu tampaknya tidak melunakkan Trump.

Pada Rabu tim kampanyenya meminta penghitungan ulang di dua kabupaten terbesar di Wisconsin yang keduanya sangat Demokrat, dengan menuduh -hanya di kedua kabupaten ini- "secara ilegal mengubah surat suara absensi, secara ilegal mengeluarkan surat suara absensi, dan nasihat ilegal yang diberikan para pejabat pemerintah."

Namun seperti langkah-langkah lain, bahkan seandainya terbukti benar, tantangan tersebut dianggap sangat tidak mungkin membalikkan margin 20.000 suara Biden di negara bagian tersebut.

Penghitungan ulang jarang mengubah penghitungan suara lebih dari ratusan, kata pakar-pakar pemilu.

pmh/ec