Pemeriksaan paksa terhadap penumpang perempuan di bandara Qatar picu kemarahan

·Bacaan 3 menit

Doha (AFP) - Penumpang perempuan yang terbang dari Qatar menjadi sasaran penggeledahan invasif setelah seorang bayi prematur ditemukan terlantar di kamar mandi bandara, dalam sebuah prosedur yang digambarkan pemerintah Australia pada Senin sebagai "sangat mengganggu" dan "menyinggung".

Sejumlah wanita - termasuk dari Australia - dikeluarkan dari penerbangan mereka dan diperiksa untuk tanda-tanda persalinan setelah bayi itu ditemukan di kamar mandi bandara Internasional Hamad di ibu kota Qatar.

Pemerintah Australia pada Senin mengutuk insiden pada 2 Oktober itu, yang baru terungkap setelah penumpang Australia angkat bicara, dan mengatakan keprihatinan telah diajukan ke Qatar.

"Ini adalah serangkaian peristiwa yang sangat, sangat mengganggu, dan memicu ketidaknyamanan. Ini bukan sesuatu yang pernah saya dengar terjadi dalam hidup saya," kata Menteri Luar Negeri Marise Payne.

"Kami telah menyampaikan keprihatinan kami dengan sangat jelas kepada pihak berwenang Qatar saat ini," katanya, seraya menambahkan bahwa masalah tersebut juga telah dirujuk ke Polisi Federal Australia.

Sebuah sumber di Doha menjelaskan insiden itu kepada AFP bahwa para petugas "memaksa para wanita untuk menjalani pemeriksaan tubuh secara invasif - yang pada dasarnya merupakan pemeriksaan pap smear secara paksa," sebuah pemeriksaan pada leher rahim.

Penumpang Wolfgang Babeck mengatakan kepada AFP bahwa para wanita itu kembali ke penerbangannya dari Doha ke Sydney dalam keadaan "terguncang", setelah diberitahu untuk melepas pakaiannya guna diperiksa oleh dokter wanita.

"Semua kesal, beberapa marah, satu menangis, tetapi pada dasarnya tidak ada yang bisa mempercayai apa yang terjadi," kata pengacara komersial. Ia menambahkan bahwa menurutnya insiden itu bisa menjadi "pelanggaran hukum internasional".

Penerbangan itu, QR908 Qatar Airways ke Sydney, terlambat empat jam meninggalkan Doha, menurut situs lalu lintas udara Flightradar24. Tidak jelas berapa banyak penerbangan yang terlibat dengan peristiwa itu.

Dalam pernyataan resmi, Bandara Internasional Hamad Doha mengonfirmasi garis besar peristiwa, tanpa memberikan rincian prosedur, atau jumlah wanita dan penerbangan yang terlibat.

"Para profesional medis menyatakan keprihatinannya kepada para pejabat tentang kesehatan dan kesejahteraan seorang ibu yang baru saja melahirkan dan meminta agar dia ditemukan sebelum berangkat," kata pernyataan itu.

"Individu yang memiliki akses ke area spesifik bandara tempat bayi yang baru lahir itu ditemukan diminta untuk membantu dalam penyelidikan".

Selain warga Australia, seorang wanita Prancis juga terpengaruh oleh pemeriksaan itu, menurut seorang pejabat.

Beberapa dari kelompok itu menerima bantuan dan dukungan kesehatan mental saat menghabiskan dua minggu terakhir di karantina, di bawah aturan yang diberlakukan oleh otoritas Australia untuk membendung penyebaran virus corona.

Sebuah laporan dari pihak berwenang Qatar tentang insiden itu menyebutkan bahwa insiden itu berlangsung cepat menurut Payne, yang mengakui bahwa petugas Australia telah diberi tahu tentang situasi tersebut oleh penumpang "pada saat penerbangan".

Insiden itu dapat merusak reputasi Qatar saat bersiap menjadi tuan rumah bagi puluhan ribu pengunjung asing untuk piala dunia sepak bola 2022.

Qatar mempraktikkan bentuk hukum Islam yang ketat, dengan hukuman keras diterapkan pada wanita yang hamil atau melahirkan anak di luar nikah.

Bandara Doha pada Minggu meluncurkan seruan agar ibu anak tersebut melapor, yang menunjukkan bahwa pemeriksaan yang dilakukan pada saat itu tidak meyakinkan.

"Bayi yang baru lahir tetap tidak diidentifikasi, tetapi aman di bawah perawatan profesional pekerja medis dan sosial," katanya dalam pernyataannya, dan meminta siapa pun yang memiliki informasi untuk melapor.