Pemerintah Bakal Suntik Rp 2 Triliun ke Bio Farma untuk Pengadaan Obat Covid-19

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Isa Rachmatawarta, membuka peluang memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT Bio Farma (Persero) sebesar Rp2 triliun di tahun ini. Penyaluran PMN ke Bio Farma, bertujuan untuk penanganan penyediaan obat-obatan dan pengembangan sarana kesehatan.

“Itu yang kita kaji dan kita pertimbangkan, sejauh ini positif, bahkan kemungkinan kita percepat. Bahkan bisa kita tambah ke APBN 2020 karena relevan sama penanganan Covid-19,” ujar Isa dalam diskusi virtual, di Jakarta, Jumat (6/11).

Isa menyebut, dalam rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI terakhir, Bio Farma diusulkan mendapatkan PMN sebesar Rp 2 triliun. Salah satunya juga untuk pembuatan obat dan vaksin corona.

“Waktu diskusi di Banggar sekitar Rp 2 triliun. Kita upayakan bisa dipenuhi semua di 2020, sedang kita diskusikan,” jelasnya.

Adapun modal tersebut diberikan untuk Holding BUMN Farmasi, yang terdiri dari Bio Farma, Kimia Farma, dan Indo Farma.

Di mana Bio Farma akan mendapatkan PMN sebesar Rp545,5 miliar, Kimia Farma Rp254,64 miliar, Indo Farma senesar Rp199,86 miliar dan PT Pertamina Bina Medika IHC sebesar Rp 1 miliar.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lembaga Kesehatan Bill Gates Percayakan Bio Farma Bikin Vaksin Covid-19

Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan vaksin polio kepada balita di sebuah posyandu di Banda Aceh, Aceh, Rabu (4/10/2020). Pemberian vaksin polio dan vaksin campak secara gratis yang berlanjut di tengah pandemi COVID-19 bertujuan memperkuat imunitas anak. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)
Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan vaksin polio kepada balita di sebuah posyandu di Banda Aceh, Aceh, Rabu (4/10/2020). Pemberian vaksin polio dan vaksin campak secara gratis yang berlanjut di tengah pandemi COVID-19 bertujuan memperkuat imunitas anak. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

Induk perusahaan Holding BUMN Farmasi, Bio Farma terpilih menjadi salah satu Potential Drug Manufacturer CEPI for Covid-19.

CEPI merupakan lembaga kesehatan yang didirikan Miliarder Bill Gates. Koalisi pemerintah-swasta dan filantropis, yang berpusat di Norwegia, memiliki tujuan untuk mengatasi epidemi, dengan cara mempercepat pengembangan vaksinnya.

Adapun, terpilihnya Bio Farma merupakan kelanjutan dari hasil due diligence tanggal 15 September, yang memberikan penilaian pada aspek sistem produksi vaksin dan mutu, sistem analitik laboratorium, dan sistem teknologi informasi yang digunakan Bio Farma dalam memproduksi vaksin.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, fasilitas Bio Farma yang akan digunakan oleh CEPI adalah untuk memproduksi vaksin Covid-19 dengan multi platform sebanyak 100 juta dosis pertahunnya, yang akan dimulai pada akhir kuartal IV 2021 atau kuartal I 2022 mendatang.

"Saat ini dunia sedang berusaha untuk menemukan vaksin Covid-19 dengan segala jenis platform. Pengembang-pengembang vaksin Covid-19 dari seluruh dunia, ada yang belum memiliki fasilitas produksi massal secara mandiri, sehingga CEPI akan mempertemukannya dengan produsen vaksin yang telah memenuhi persyaratan tertentu, dan Bio Farma adalah salah satunya," ujar Honesti dalam keterangannya, Kamis (15/10/2020).

Honesti menambahkan, bahwa penggunaan kapasitas produksi untuk CEPI, tidak akan memengaruhi kegiatan produksi rutin yang ada di Bio Farma.

"Tentu saja kami sudah memperhitungkan aktivitas produksi kami yang rutin, setelah dilakukan perhitungan, penggunaan kapasitas produksi untuk CEPI, tidak akan mengganggu kegiatan produksi rutin di Bio Farma," ungkap Honesti.

Pada masa yang akan datang, kolaborasi dengan CEPI tidak sebatas vaksin Covid-19 saja, melainkan pengembangan vaksin pandemi lainnya melalui berbagai teknologi terkini.

Diharapkan Bio Farma bisa mendapatkan akses terhadap berbagai teknologi pembuatan vaksin, sehingga akanmemperkuat kemandirian vaksin secara nasional.

Honesti juga mengatakan, kepercayaan yang diberikan oleh CEPI tidak lepas dari pengalaman yang panjang Bio Farma di dunia internasional sejak tahun 1997.

Bio Farma tercatat sebagai salah satu dari 29 produsen vaksin di dunia yang telah mendapatkan prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai syarat telah memenuhi Good Manufacturing Practices (GMP), sehingga vaksin hasil dari Bio Farma, sudah digunakan di 150 negara.

Bahkan, salah satu organisasi Internasional pernah mempercayai Bio Farma sebagai Presiden, yaitu Developing Countries Vaccine Manufacturer Network (DCVMN) / Gabungan Produsen Vaksin dari Negara Berkembang, selama dua periode 2012-2014 dan 2014-2016.

Bio Farma juga dipercaya dalam pengembangan teknologi transfer teknologi vaksin untuk kemandirian di negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), bahkan Bio Farma dijadikan laboratorium rujukan setelah Indonesia ditunjuk sebagai Center of Excellent vaksin dan bioteknologidi negara-negara OKI.

"Pada tahun 2019 yang lalu, tercatat lebih dari 16 negara anggota OKI yang berlajar langsung kepada kami, mengenai pendistribusian vaksin, saat Bio Farma menjadi tuan rumah pada acara Workshop Cold Chain Management System (rantai dingin) untuk negara-negara yang tergabung dalam OKI," tutup Honesti.

Bio Farma Mulai Produksi Massal Vaksin Sinovac di Januari 2021

Banner Infografis 180 Juta Warga Indonesia Target Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Banner Infografis 180 Juta Warga Indonesia Target Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Uji klinis vaksin sinovac yang dilakukan Bio Farma akan selesai pada Januari 2021 mendatang. Kemungkinan vaksin ini akan diproduksi Bio Farma secara massal pada akhir Januari 2021 atau awal bulan Februari 2021.

"Kemungkinan kita bisa produksi di akhir Januari 2021 atau awal Februari 2021," kata Project Integration Manager R&D Bio Farma, Neni Nurainy dalam diskusi Ngopi BUMN: Kontribusi BUMN Farmasi Mengatasi Pandemi Covid-19, Jakarta, Kamis (15/10).

Proses ini pun kata Neni bisa dipercepat. Sebab, saat ini sudah ada 1.564 subjek yang disuntikkan vaksin sinovac. Lalu ada sekitar 843 subjek dari 1.620 subjek yang mendapatkan suntikan vaksin kedua.

"Nanti kita lihat dinamikanya," kata dia.

Saat vaksin diproduksi, Bio Farma akan mengajukan Emergency Use Authorization (EUA) yang didapat dari Badan POM. Proses ini akan memakan waktu selama 20 hari dari saat pengajuan.

"Nanti kita ajukan EUA ke Badan POM dan waktunya paling lambat 20 hari dari jadwal pengajuan dari Bio Farma ke Badan POM," kata dia.

Sementara itu, terkait vaksin yang siap disuntikan pada November dan Desember 2020 berasal dari China. Vaksin jadi tersebut diimpor dari tiga perusahaan yakni Cansion, G42 Sinopharm, dan Sinovac.

"Untuk November dan Desember itu pemerintah merencanakan mengimpor vaksin jadi," kata dia

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: