Pemerintah bangun tanggul permanen sungai Torue atasi banjir

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah mengatakan pemerintah membangun tanggul permanen menggunakan batu boulder atau batu gajah di Sungai Torue guna mengatasi banjir.

"Dua kali banjir susulan Desa Torue, Kecamatan Torue di Bulan Agustus ini akibat tanggul sungai jebol, sehingga dilakukan penanganan khusus dengan membangun tanggul permanen," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Parigi Moutong Amiruddin yang dihubungi dari Palu, Ahad.

Ia menjelaskan, tanggul darurat dibangun sebelumnya tidak mungkin dipertahankan, mengingat dua kali banjir susulan terjadi hanya rentan waktu sekitar dua pekan karena tumpukan material sedimentasi hasil pengerukan tidak mampu menahan debit air yang banyak sehingga air meluap hingga ke pemukiman warga.

Oleh karena itu, penanganan sungai Torue dilakukan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III (BWSS III) membutuhkan material yang kokoh dengan harapan peristiwa serupa tidak lagi terjadi.

Baca juga: Huntara korban banjir bandang di Torue-Parigi Moutong dibangun pemda

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong kembali buka dapur umum di Torue

"Tanggul permanen dibuat di antara pertemuan alur sungai Torue dan Sampaloe hingga ke bagian hilir, karena titik rawannya di situ," ujar Amiruddin.

Selain di sungai Torue, katanya, penanganan serupa juga dilakukan di sungai Desa Tolai, Kecamatan Torue karena warga di desa itu juga terancam banjir, apalagi situasi saat ini potensi hujan lebat masih sering mengguyur.

Dari hasil pertemuan lintas sektor beberapa waktu lalu, pengambilan batu gajah untuk kepentingan pembuatan tanggul diambil dari sungai Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, sungai Desa Marantale, Kecamatan Siniu dan sungai Torue.

Ia mengemukakan, model tanggul menggunakan tumpukan batu gajah dinilai lebih efektif menahan volume air yang banyak pada kondisi tertentu sebagaimana perhitungan teknis instansi terkait.

"Desa Torue punya riwayat banjir bandang. Banjir bandang pada 28 Juli 2022 merupakan peristiwa yang ketiga dan yang terparah hingga menimbulkan korban jiwa," demikian Amiruddin.*

Baca juga: BPBD: Banjir susulan di Desa Torue akibat tanggul darurat jebol

Baca juga: BPBD: Pemda Sulteng akan bangun 10 blok huntara korban banjir Torue