Pemerintah Belum Prioritaskan Pengadaan Vaksin Covid-19 Pfizer dari AS

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dua perusahaan farmasi asal Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Jerman dikabarkan berhasil menemukan vaksin Covid-19 yang memiliki efek samping rendah.

Pfizer dan BioNTech SE berhasil mencegah infeksi hingga lebih dari 90 persen dalam sebuah penelitian melibatkan puluhan ribu sukarelawan.

Menanggapi itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan vaksin Pfizer bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam pengadaan vaksin di tanah air. Namun sejauh ini, Pemerintah Indonesia belum memasukkan vaksin Pfizer sebagai salah satu alternatif pengadaan vaksin.

"Jadi Indonesia tentunya salah satu dari berbagai vaksin Covid-19 itu dipertimbangkan, tetapi kami belum memasukkan Pfizer sebagai salah satu," kata Airlangga di Jakarta, Selasa (11/10/2020).

Sejauh ini Indonesia telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan farmasi di China untuk pengadaan vaksin. Sehingga untuk memasukkan vaksin Pfizer sebagai daftar pengadaan vaksin memerlukan pembahasan lebih lanjut.

"Ini disiapkan untuk menjadi bagian berikutnya karena masih banyak yang dibahas terkait dengan pengadaan vaksin," kata dia.

Sebagai informasi hasil temuan dari vaksin Pfizer menyebutkan berdasarkan analisis terhadap 94 sukarelawan, sebagian sudah diberi placebo dan sebagian diberi vaksin, yang kemudian ditulari Covid-19. Uji coba ini akan dilanjutkan hingga 164 kasus muncul.

Jika data ini bertahan dan efek dari vaksin Covid-19 Pfizer muncul sekitar sepekan kemudian dan terlihat perkembangannya cukup baik, maka ini berarti dunia sudah memiliki alat untuk mengendalikan pandemi yang sudah merenggut lebih dari 1,2 juta jiwa ini.

Ada Vaksin Covid-19, Protokol Kesehatan Harus Tetap Dijalankan

Petugas gabungan Satpol PP, Dishub dan TNI Polri melakukan operasi yustisi protokol kesehatan untuk meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan warga di Lebek Bulus, Jakarta, Senin (14/9/2020). Pemprov DKI memperketat kembali PSBB karena kasus Covid-19 mengalami peningkatan. (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Petugas gabungan Satpol PP, Dishub dan TNI Polri melakukan operasi yustisi protokol kesehatan untuk meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan warga di Lebek Bulus, Jakarta, Senin (14/9/2020). Pemprov DKI memperketat kembali PSBB karena kasus Covid-19 mengalami peningkatan. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Staf Ahli Menteri PPN/Bappenas Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan, Amalia Adininggar Widyasanti, memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2021 akan segera pulih pasca ditemukannya vaksin Covid-19.

Dia menilai pendistribusian vaksin secara massal di tahun depan merupakan salah satu sinyal positif pengendalian pandemi virus corona.

"Artinya pada saat penyebaran virus Covid-19 bisa kita kendalikan dengan baik, di situlah ekonomi akan bisa segera pulih," ujar Amalia dalam sesi webinar, Sabtu (7/11/2020).

Kendati demikian, ia masih membuka ruang pertanyaan, seberapa efektif kah penemuan vaksin ini benar-benar bisa mengendalikan virus Covid-19.

Oleh karenanya, ia menganggap penerapan protokol kesehatan tetap harus dijalankan secara ketat agar ekonomi nasional bisa pulih seutuhnya.

"Jadi artinya apabila kita bisa melakukan adaptasi kebiasaan baru secara disiplin, protokol kesehatan dilakukan di setiap lini aktivitas perekonomian kita, ekonomi kita akan bisa pulih," imbuhnya.

Pemerintah sendiri disebutnya telah menentukan tema pembangunan khusus pada 2021, yakni diarahkan kepada pemulihan ekonomi dan reformasi sosial.

Pelaksanaan tema tersebut akan direalisasikan lewat berbagai program yang difokuskan untuk melakukan pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19.

"Berdasarkan hal inilah itu juga memberikan salah satu optimisme buat kita bahwa ekonomi kita di 2021 bisa tumbuh menjadi sekitar 5 persen," pungkas Amalia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: