Pemerintah Beri Insentif untuk Industri Ritel, Horeka dan Transportasi

Daurina Lestari, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah mempersiapkan insentif bagi pelaku usaha pada hari raya Idul Fitri 2021. Meski adanya pelarangan mudik lebaran pada tahun ini, diharapkan konsumsi masyarakat bisa naik, dan industri yang terdampak COVID-19 bisa tetap bertahan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, oleh sebab itu pemerintah tidak hanya akan memberikan stimulus dalam bentuk subsidi ongkos kirim saja saat Hari Belanja Online Nasional 2021, melainkan ada insentif lain.

Industri ritel, hotel, restoran dan kafe (horeka) serta transportasi, dikatakannya, juga akan mendapatkan insentif lebaran dari Kementerian Keuangan. Insentif dikucurkan dalam bentuk tambahan modal kerja.

"Pemerintah sudah mengeluarkan melalui menteri keuangan terkait insentif untuk menambahkan modal kerja bagi perusahaan-perusahaan yang terkena pandemi COVID, terutama di sektor ritel, hotel, restoran dan kafe," tutur dia saat konferensi pers, Jumat, 23 April 2021.

Selain insentif tersebut, dia mengatakan, untuk perusahaan-perusahaan tersebut yang memang secara langsung terdampak pandemi COVID-19 juga diperkenankan untuk bisa restrukturisasi kredit dengan periode 3 tahun.

"PMK-nya sudah turun, dengan demikian bisa berbicara dengan perbankannya masing-masing, Himbara maupun Perbanas sudah dikomunikasikan, sehingga tentu akan kita monitor secara satu persatu dari para pengusaha yang mengajukan restrukturisasi tersebut," ucapnya.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta pemerintah untuk menjadikan sektor ritel sebagai salah satu sektor prioritas. Dengan masuk prioritas maka didukung pemerintah dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aprindo, Roy Nicholas Mandey, menyampaikan permintaan tersebut karena sektor ritel telah mengalami tekanan ekonomi yang berat akibat pandemi COVID-19

Dia menyebut kondisi ini menyebabkan setiap satu ritel yang merupakan anggota Aprindo harus tutup hampir setiap hari. Sejak awal tahun ini, dikatakannya sudah 90 ritel gulung tikar di Indonesia.

"Toko yang tutup termasuk minimarket supermarket, departemen store maupun juga tenant," kata dia di Bali, seperti dikutip Sabtu, 10 April 2021.

Roy menekankan, kondisi ini memprihatinkan untuk sektor strategis, karena sektor ritel mampu menyerap tenaga kerja hingga 2 juta orang. Selain itu, sektor ini juga memasok kebutuhan pokok dan harian masyarakat.

"Kita bahkan jaga tingkat ketersediaan barang. Saya setuju game changer kita vaksin, PDB dan Cipta Kerja. Tapi, kami sulit akses ke perbankan," ujarnya.