Pemerintah Berjuang Keras agar Bali Tak Terus Resesi

·Bacaan 2 menit
Umat Hindu saat melaksanakan ritual persembahyangan Hari Raya Galungan di Kampung Bali, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/9/2020). Perayaan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) tersebut dilakukan di kediaman masing-masing. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Umat Hindu saat melaksanakan ritual persembahyangan Hari Raya Galungan di Kampung Bali, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/9/2020). Perayaan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) tersebut dilakukan di kediaman masing-masing. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Provinsi Bali resmi masuk resesi pada kuartal II 2020. Pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut minus pada kuartal I dan kuartal II 2020. Pemerintah pun bekerja keras menahan agar Bali tak kembali mengalami resesi.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, Bali mengalami resesi karena wilayah tersbeut bergantung pada sektor pariwisata. Di awal pandemi, berbagai pembatasan yang dijalankan banyak negara membuat umlah wisatawan yang ke Bali anjlok.

"Bali itu ekonominya sudah tergantung pariwisata, kalau ini terhenti banyak yang memang kehilangan pekerjaan," kata Teten dalam Dialog Covid-19 bertajuk Protokol Kesehatan di UMKM di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (26/10/2020).

Resesi ekonomi di Bali ini juga telah masuk dalam pembahasan di Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCP-PEN). Teten menyebut, akhir tahun ini pemerintah akan memberikan relaksasi bagi [Bali](relaksasi "") agar perekonomian di pulau dewata ini kembali menggeliat.

"Ini sudah dibahas di Komite PEN, akhir tahun sudah (ada) relaksasi," kata dia.

Sebenarnya kata Teten, dalam bisnis pariwisata yang perlu diperkuat terkait kepercayaan masyarakat aman dari penyebaran virus Covid-19. Maka dia mengimbau para pelaku usaha industri pariwisata untuk menggugah para pelancong kembali berwisata dengan menerapkan protokol kesehatan.

"Jadi memang kita perlu penerapan protokol kesehatan untuk perhotelan, pesawat dan restoran atau kafe di sana," ujar Teten.

Sebab, lanjutnya, sejak pandemi ini berlangsung, gaya hidup masyarakat juga telah berubah. Apalagi para turis domestik atau mancanegara ini didominasi mereka yang memiliki level pendidikan baik karena memiliki pendapatan berlebih. Sehingga di masa pandemi ini gaya hidup mereka juga berubah dan cenderung sangat menjaga diri agar tidak terpapar.

"Kalau bisa diyakinkan dari pelaku usaha ini, saya kira semua orang tidak takut. Apalagi orang Indonesia ini sudah bosan di rumah terus, sudah jenuh dan sekarang butuh pariwisata," tutur Teten.

Protokol kesehatan

Selain itu, faktor penggunaan transportasi juga ikut menggerakan pariwisata di Bali. Salah satunya transportasi udara yang kata Teten cenderung lebih aman dengan teknologi yang digunakan dalam kabin pesawat.

Dia mengaku dua minggu lalu telah bertandang ke Bali. Selama perjalanan tersebut dia merasa semua sudah berjalan sesuai protokol kesehatan dan kepercayaan terhadap sarana dan prasarana sudah kembali sebagaimana sebelum virus corona mewabah.

"Tadinya saya merasa naik pesawat tidak aman, tapi dengan penerapan protokol kesehatan ini saya sekarang aktivitas sudah aktif kembali kemana-mana pakai pesawat," kata dia.

Maka, agar perekonomian sektor pariwisata ini kembali bergerak, perlu peran semua pihak terutama pelaku usaha untuk mematuhi standar protokol kesehatan yang telah dibuat. Di sisi lain, pemerintah juga harus bekerja keras agar tidak muncul kluster penyebaran virus baru dari pariwisata.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: