Pemerintah Butuh Dana Rp14 Miliar Bangun Pabrik Minyak Makan Merah

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengungkap pembangunan pabrik minyak makan merah perdana dilakukan pada Oktober 2022 mendatang. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 14 miliar.

Ini merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat pabrik skala kecil yang dikelola oleh koperasi. Namun, besaran ini masih mengacu hitung-hitungan yang berlaku dalam pembangunan pilot project pabrik minyak makan merah bekerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara III (Persero).

"3 bulan kedepan akan siapkan pembangunan mesin, siapkan pembiayaan dari LPDB dan perbankan. Nanti piloting ini mesin dibuat PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit), ini sejarah baru bagi persawitan indonesia yang dimana petani sawit yang sudah berkoperasi ini bisa bangun minyak makan merah dan mendistribusikannya," kata dia dalam konferensi pers di Kementerian Koperasi dan UKM, Senin (12/9).

Dia menjelaskan, tahapan pembangunan pabrik perdana telah menyentuh 40 persen. Dari 11 tahapan yang perlu dilalui, sudah ada 5 tahapan yang berhasil dicapai.

Salah satunya adalah tahapan penyerahan Detail Engineering Design (DED) dari PPKS ke Kementerian Koperasi dan UKM. Dia mengakui, kalau proses ini sedikit molor dari perencanaan yang dilakukan.

"Memang sedikit molor karena ada tambahan-tambahan, jadi kita baru kali ini (melalukan penyerahan dokumen), saya kita tidak akan mengganggu proses," kata dia.

"Sebagaimana tadi disampaikan ada 10 tahap yang disiapkan, dan ini sudah hampir 40 persen. Jadi DED sudah diserahkan tim PPKS. SNI sudah dalam proses konsensus BSN, penyerahan produk melalui MoU Hippindo, sudah ada, lalu penetapan piloting dan kemitraan dengan PTP (PT Perkebunan Nusantara)," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit Edwin Syahputra Lubis mengungkapkan, dana Rp14 miliar masih dalam proses hitungan kasar. Sebab, masih ada biaya-biaya lain yang mesti masuk dalam perhitungan lebih detail.

"Piloting ini biaya kurang lebih kalau mesinnya aja Rp 7-8 miliar, kalau dengan sarana-sarananya mungkin sekitar Rp 14 miliar, pergudangan dan lain sebagainya," terang dia.

"Mungkin ya (Rp 14 miliar), tapi itu tergatung dengan harga baja, tergantung harga apa, makanya kita belum bisa menyebut harga pastinya. Tergantung harga pipa, tapi kalau hitungan kita kurang lebih segitu lah," tandasnya.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com [azz]