Pemerintah Diminta Serius Ajarkan Bahasa Daerah

TEMPO.CO, Jember-Para pegiat tradisi budaya dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, meminta pemerintah serius mengajarkan bahasa daerah di seluruh sekolah. Bahasa daerah adalah bahasa yang biasa digunakan dalam beragam tradisi atau adat istiadat daerah. "Kuncinya di bahasa, baik bahasa Jawa, Madura, Osing maupun lainnya," ujar Bambang Suprapto, pegiat Komunitas Tradisi dan Budaya Tengger dari Kabupaten Probolinggo, Senin, 12 November 2012.

Pegiat lain, dalam acara "Sarasehan Gelar Tradisi Komunitas Budaya Se-Jawa Timur" meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan bahasa daerah sebagai muatan lokal di seluruh sekolah, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. "Kalau sejak dini bahasa daerah diajarkan dan diwajibkan, kelestarian tradisi budaya bisa lebih terjaga," kata Soerjo Wido Minarto, pegiat tradisi dari Kabupaten Malang.

Christanto P. Rahardjo, peneliti seni tradisi dari Universitas Jember, mengatakan, selain bahasa daerah, pemerintah harus lebih peduli terhadap beragam tradisi budaya masyarakat. Tanpa kebijakan yang berpihak kepada tradisi masyarakat, kata dia, komunitas-komunitas tradisi di Indonesia akan semakin sulit menghidupi diri sendiri. "Kebijakan atau fasilitas bukan sekadar soal dana, tapi juga kesempatan untuk pentas, pembinaan dan pengkaderan," katanya.

Kepala Sub Direktorat Kepercayaan Komunitas Adat Kementerian Pariwisata Sri Guritno menambahkan, pengajaran bahasa daerah di sekolah di beberapa daerah mulai hilang belakangan ini. Padahal, di masa Orde Baru, bahasa daerah diwajibkan sebagai muatan lokal dalam kurikulum sekolah. "Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan agar bahasa daerah diwajibkan di seluruh sekolah, di desa maupun di kota," kata dia. 

Menurut Guritno, bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi dan sarana pelestarian tontonan tradisi-budaya, tapi juga sarana tuntunan bagi anak-anak muda. "Banyak nilai-nilai budaya yang bisa dipelajari dari bahasa daerah, dan itu berguna agar siswa bisa semakin kuat identitas budayanya sekaligus luwes dalam menyerap dan mengembangkan budaya mereka sesuai zaman," katanya.

MAHBUB DJUNAIDY

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.