Pemerintah Genjot Ekonomi Hijau, Investor Kasih Sinyal Positif

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 3 menit

VIVA – Di balik menimbulkan banyak kesulitan, Pandemi COVID-19 memberikan kesempatan beberapa sektor untuk semakin tumbuh. Khususnya yang melakukan transformasi ekonomi hijau.

Menurut Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti pandemi membuat Pemerintah mereposisi kembali untuk langkah ke depan dengan mengutamakan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pembangunan Indonesia ke depan. Prinsip ini diharapkan sejalan dengan dunia usaha di Indonesia.

“Selain akselerasi otomasi dan digitalisasi tentunya ada tren yang mengharuskan kita semua melakukan pemulihan hijau. Ternyata dampak COVID-19 memberikan dampak pada tujuan berkelanjutan kita atau Sustainable Development Goals, ada risiko ekonomi yang kita alami, penurunan daya beli masyarakat, angka kemiskinan meningkat sampai 10,9 persen pada September 2020,” ucap Amalia saat webinar Reimagining The Future of Energy bertajuk ‘Green Economy Transportation’ pada Kamis, 25 Maret 2021.

Baca juga: Heboh soal Beras, Komisi IV DPR Soroti Kinerja Bulog

Amalia menjabarkan, ada 3 tahap transformasi yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi krisis pandemi COVID-19 untuk ekonomi berkelanjutan. Yaitu flattening the curve, adaptasi kebiasaan baru, dan antisipasi pandemi baru.

“Tentunya akan diarahkan pada transformasi hijau. Kami di Bappenas sedang melakukan re-design transformasi ekonomi yang dilakukan sebelum kondisi krisis. Nantinya kita build back better dengan pembangunan ekonomi yang lebih hijau dan inklusif,” tambahnya.

Setelah Pandemi COVID-19 usai, menurutnya, penerapan prinsip ekonomi hijau harus semakin di akselerasi. Sebab ke depan ekonomi harus berevolusi, selama ini ekonomi linear menunjukkan adanya raw materials. Barang diproduksi, digunakan, lalu dibuang, sehingga tidak ada barang yang didaur ulang.

“Ini akan menyeimbangkan antara keuntungan ekonomi, lingkungan sosial dan sumber daya. Tapi juga meminimalkan waste atau limbah dan buang ke lingkungan kita. Jadi apa yang kita gunakan kita bisa recycle dan digunakan kembali sebagai input produksi,” ungkapnya.

Ekonomi sirkular lanjutnya, bukan ancaman tapi menjadi peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk berinovasi dan lapangan kerja baru. Bahkan, secara bersamaan berkontribusi untuk mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Amalia menjelaskan, saat ini prioritas ekonomi berkelanjutan yaitu menyasar sektor industri. Sektor ini perlu didorong untuk ekonomi hijau berkelanjutan. Nantinya sektor energi akan diarahkan ke energi baru terbarukan.

“Dan yang terakhir itu investasi, ini akan kami arahkan ke investasi hijau. Kita berikan sesuatu insentif jadi catalyst ke investasi hijau, ini akan mendukung daya saing ekonomi yang lebih baik dan kontribusi yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Meski demikian, tanda-tanda semakin meningkatnya penerapan ekonomi hijau di dunia usaha sudah semakin terlihat saat ini. Sebab, investasi berbasis Environmental, Social and Good Governance (ESG) semakin diminati investor. Komitmen itu salah satunya disampaikan, perusahaan sumber daya alam PT Barito Pacific Tbk.

Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk Agus Salim mengatakan, minat investasi hijau itu sudah terlihat beberapa tahun lalu. Dari dua kali penerbitan surat utang hijau (green bonds) milik anak usaha Barito, Star Energy pun selalu mendapat sambutan posititif dari investor hingga mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) serta dilirik institusi besar.

Penerbitan green bond Star Energy Geothermal Salak dan Star Energy Geothermal Darajat II senilai US$ 1,11 miliar tersebut mengalami oversubscribed sebanyak 3,5 kali. Hal itu menunjukkan investor mendukung sektor energi yang lebih ramah lingkungan.

“Investor dari segi EUM 5 tahun terakhir ini 5 kali lipat, growthnya cukup besar,” kata Agus Salim dalam sesi lain acara Indonesia Data and Economic Conference (IDE) 2021 bertajuk “The Momentum to Encourage Green Energy Investment”.

Seiring besarnya potensi investasi hijau, Barito Pacific pun secara internal berkomitmen mendukung bisnis ramah lingkungan, meskipun disadari ada dari beberapa industri yang beroperasi di bawah grup tidak bisa sepenuhnya menerapkan prinsip berkelanjutan.

Strategi lain yang ingin dicapai Barito Pacific dalam bisnisnya dan komitmennya mendukung masalah lingkungan ialah dengan mendorong hadirnya mobil listrik (electric vehicle). Dengan lahirnya era mobil listrik, dia berharap impor bahan bakar minyak (BBM) menurun dan bisa mendorong serapan produk plastik dalam negeri.